Thursday, October 05, 2006

Kami Dipersatukan oleh Buku

"Sejuta topan badai! ...babon bulukan! ...kepiting rebus!..." Bagi para penggemar komik di Indonesia tahun 1970 hingga 1980-an pasti sudah sangat mengenal "umpatan-umpatan" dari Kapten Haddock, salah satu tokoh pendukung yang terdapat dalam komik Tintin, terjemahan asal Belgia karangan George Remi atau yang lebih dikenal dengan Herge’.

KOMIK ini mengisahkan petualangan wartawan muda berjambul bernama Tintin yang selalu ditemani seeokor anjing putih bernama Snowy di berbagai tempat di penjuru bumi. Komik yang di negeri asalnya mulai diterbitkan menjadi buku sejak tahun 1930 ini sarat dengan kisah seru antara Tintin dan teman-temannya, seperti Kapten Haddock, Profesor Calculus, detektif kembar Thompson dan Thomson, dan tentu saja Snowy, dalam membongkar berbagai tindak kejahatan dan teror yang dilakukan pihak-pihak "musuh".

Kendati dalam komik tersebut Tintin berprofesi sebagai reporter, dalam aksi-aksinya ia lebih mirip sebagai seorang detektif yang kerap melakukan investigasi. Oleh karena itu, ia kerap menjadi pahlawan karena lantaran membongkar berbagai tindak kejahatan dengan aksi-aksinya yang sangat berani dan cerdik yang dikemas dalam kisah yang sangat menarik dalam komik tersebut.

Komik petualangan Tintin ini tak ayal menjadi terkenal dan digemari tidak saja di negeri asalnya, tetapi juga merambah hingga ke berbagai negara termasuk Indonesia semenjak tahun 1975, setelah diterbitkan terjemahannya oleh penerbit Indira. Sampai pertengahan tahun 1990-an hampir seluruh komik Tintin, yakni sebanyak 23 judul dari Tintin di Soviet hingga Tintin dan Picaros, diterbitkan. Kecuali satu judul yang belum diterbitkan, yakni karya Herge’ terakhir yang berjudul Alph Art.

Namun, kepopuleran komik Tintin di negeri ini seakan tenggelam memasuki pertengahan tahun 1990-an setelah penerbit Indira tidak lagi mencetak ulang komik Tintin. Akibatnya, semenjak itu komik-komik Tintin menghilang di pasaran. Uniknya, komik bisa saja meredup, tetapi sosok Tintin dan rekan-rekannya tetap membekas pada kalangan tertentu yang sempat menikmati kisah petualangannya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya mailing list Komunitas Tintin Indonesia sejak pertengahan Juni 2003.

"Komunitas Tintin Indonesia itu awalnya cuma iseng dari saya sama teman-teman yang sedang berburu berita mengenai Tintin Jadi, awalnya bukan komiknya, tapi berburu berita tentang Tintin dan merchandise Tintin. Setelah itu saya tanya ke beberapa teman, kalau bikin milis Tintin kira-kira ada yang tertarik enggak ya? Tapi, akhirnya teman-teman bilang bikin aja, toh enggak ada ruginya. Paling-paling kita-kita juga yang meramaikannya," kata Surjorimba Suroto, pendiri mailing list Komunitas Tintin Indonesia. Awalnya Surjo pesimistis karena, menurut dia, meskipun sempat sangat terkenal di tahun 1980-an, sejak pertengahan 1990-an Tintin nyaris tidak dikenal lagi. Namun, akhirnya bersama beberapa temannya yang rata-rata sudah berumur lebih dari 30 tahunan, Surjo membentuk mailing list Tintin Indonesia yang beralamat tintin_id@yahoogroups.com. Saat ini anggotanya sudah tercatat lebih dari 200 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada juga yang tinggal di luar negeri.

"Di milis Tintin ini kita tidak hanya membicarakan masalah nostalgia atau berburu merchandise saja, tetapi kita lebih banyak membahas esensi komik Tintin sebenarnya. Karena, komik Tintin tidak hanya gambar-gambarnya yang lucu, tapi ceritanya sendiri banyak yang masih relevan sampai sekarang, misalnya mengenai politik, sosial, kebudayaan, lingkungan, kriminalitas, dan perang," kata Surjo menjelaskan.

APABILA dirunut ke belakang beberapa tahun sebelum munculnya komunitas Tintin, pada akhir tahun 1999 para penggemar Karl May di Indonesia sudah lebih dahulu merintis membentuk paguyuban yang belakangan di beri nama Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI). Sama dengan komunitas Tintin, paguyuban penggemar novel petualangan asal Jerman, Karl May, ini juga dimulai dari paguyuban maya di internet.

"Paguyuban Karl May ini awalnya justru dari posting saya di milis penggemar classic rock. Waktu itu saya tanya anak- anak, ada enggak ya yang penggemar Karl May. Ternyata di luar dugaan banyak dari anak-anak penggemar musik rock ini juga penggemar Karl May. Saya yang terkaget-kaget karena selama 20 tahun hilang di Indonesia, kok mereka masih pada concern dan tahu," kata Pandu Ganesa, yang menjadi motor dan pendiri PKMI. Setelah tahu bahwa penggemar Karl May masih banyak, maka Pandu Ganesa kemudian merancang situs Karl May.

Situs di dunia maya yang beralamat indokarlmay.com ini akhirnya jadi sekitar bulan Oktober 2000. Sebulan kemudian menyusul terbentuk milis penggemar Karl May pertama di Indonesia.
Secara tak terduga kehadiran PKMI ternyata mendapat sambutan yang hangat dari para penggemar Karl May dan publikasi dari media massa. "Momentumnya adalah saat artikel Dan Damai di Bumi yang saya tulis untuk memperingati 100 tahun Karl May dimuat di halaman depan Kompas. Dan tanggal itu saya akui sebagai hari kelahiran PKMI sebenarnya karena PKMI benar-benar eksis di luar lingkungan kita. Nah, sejak itulah berdatangan orang untuk bergabung, dari hanya beberapa belas melejit hingga akhirnya lebih dari 100 orang anggotanya," kata Pandu menjelaskan.

Kendati di satu sisi akhirnya PKMI benar eksis dan dikenal orang, hal ini terbukti dengan banyaknya publikasi di media massa dan acara-acara diskusi tentang Karl May di berbagai tempat. Namun, ironinya buku-buku karangan Karl May hampir-hampir sudah puluhan tahun hilang di Indonesia. Oleh karena itu, atas dorongan dari penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Pandu Ganesa kemudian mempersiapkan untuk menerbitkan buku Karl May. Hal ini dilakukan karena Pradnya Paramita, penerbit yang selama ini menerbitkan novel Karl May di Indonesia, kurang tertarik untuk menerbitkan buku Karl May lagi. "Akhirnya oleh KPG saya dijadikan "editor tamu". Tugas saya adalah mencari naskah dan penerjemah. Jadi, setelah melalui proses yang cukup lama sekitar dua tahunan, novel Dan Damai di Bumi karya Karl May akhirnya diterbitkan oleh KPG sekitar bulan Oktober 2002. Penerjemahnya Hendarto Setiadi. Selain itu, KPG juga menerbitkan enam buku bergambar karangan Karl May lainnya," tandas Pandu.

Kiprah PKMI ternyata tidak berhenti di sini. Dengan alasan banyaknya permintaan dari anggotanya untuk menerbitkan buku-buku Karl May lainnya dan melepaskan ketergantungan terhadap penerbit, akhirnya Pandu Ganesa bersama empat rekannya di PKMI patungan untuk menerbitkan buku Karl May secara sendiri atau dengan cara indie. "Ini untuk gotong royonglah. Penerjemahnya dibayar, tapi editornya gotong-royong. Desainernya juga gotong-royong. Artinya, semuanya tidak cash and carry," kata Pandu menjelaskan. Hingga saat ini PKMI melalui penerbit Pustaka Primatama telah menerbitkan enam judul buku yang di antaranya adalah Winnetou I, II, dan III atau Trilogi Winnetou yang sangat terkenal itu.

APABILA dirunut, klub-klub penggemar buku atau klub yang ada di masyarakat tidak hanya terbatas pada klub-klub buku seperti Komunitas Tintin atau PKMI yang terbentuk karena kesamaan hobi atau kegemaran terhadap satu buku atau pengarang tertentu saja. Tetapi, ada pula klub-klub buku yang memang dibentuk oleh para pencinta buku sebagai wadah atau ajang berdiskusi sesama pencinta buku untuk membahas berbagai jenis buku. Jadi, dasarnya semata-mata lantaran kecintaan terhadap buku. Ekspresi, Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), misalnya, selain sebagai lembaga pers kampus, sejak dua tahun lalu Ekspresi memiliki divisi wacana sebuah komunitas cinta baca yang orientasi kegiatannya pada diskusi buku.

"Sebagai lembaga pers, di samping menerbitkan majalah dan beberapa media lain seperti buletin, Ekspresi juga mengembangkan tradisi intelektual. Nah, tradisi intelektual itu menurut kami bisa terbangun dari salah satunya adalah kita mencintai buku. Misalnya, apresiasi buku, membaca, menulis, dan juga mendiskusikan," kata Mustakim, salah seorang aktivis Ekspresi. Ia juga mengakui bahwa motivasi sebagian dari anggota Ekspresi ikut dalam diskusi buku biasanya untuk keperluan praktis, yakni menulis resensi di media. Akan tetapi, selebihnya kegiatan membaca buku diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wacana sehingga ketika nanti menulis resensi ataupun opini di media, dia dapat dikatakan telah melakukan suatu proses kritis yang sebenarnya.

Tradisi intelektual yang dikembangkan oleh Ekspresi tersebut saat ini sudah mulai membuahkan hasil. Buktinya, mereka sudah menelurkan beberapa penulis, seperti Muhidin M Dahlan (penulis novel Tuhan, Ijinkan Aku Jadi Pelacur) dan Herlinatiens (pengarang novel Garis Tepi Seorang Lesbian), yang keduanya merupakan jebolan Ekspresi. Selain itu, alumni Ekspresi banyak yang terlibat di berbagai penerbitan buku, terutama di kota Yogyakarta. "Bisa dikatakan penerbit buku untuk Yogya, Ekspresi yang pegang," tutur Sismono La Ode, Pemimpin Umum Ekspresi. Ia menyebutkan bahwa penerbit Jendela, Melibas, Pinus, dan beberapa penerbit lain di Yogya diawaki oleh anggota Ekspresi.

Saat ini paling tidak sekali dalam dua minggu mereka rutin mengadakan diskusi internal. "Pesertanya antara 10-15 orang. Bahkan, akhir-akhir ini malah mingguan karena diskusinya tidak terbatas hanya persoalan buku atau ideologi atau apa, tetapi termasuk diskusi dengan tema tertentu. Jadi, kawan-kawan dikasih majalah atau buku dengan tema tertentu dan kemudian harus dipresentasikan," kata La Ode menjelaskan.

Agak berbeda dengan Ekspresi di UNY yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa, eLSTra-sebuah kelompok diskusi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta-ini sama sekali tidak ada hubungan secara kelembagaan dengan kampusnya. "Lembaga ini memang kita maksudkan sebagai suatu forum berkumpul lintas fakultas yang ada di IAIN sini. Pertama kali waktu itu tahun 2000. Kami membicarakan persoalan filsafat, jadi kami selalu berdiskusi tentang filsafat," kata Hudan Mudaris, salah seorang aktivis eLSTra. Dalam perkembangannya kemudian, diskusi yang dilakukan eLSTra menjadi lebih formal dengan kurikulum dan jadwal yang lebih teratur. "Kami mendiskusikan karya-karya Durheim, Max Weber, dan macam-macam kajian pokok sosiologi lain," kata Zaenal, aktivis eLSTra lainnya.

Salah satu hal yang wajib dilakukan atau syarat menjadi anggota eLSTra adalah dalam kegiatan diskusi mereka wajib berbicara diskusi dan menulis. "Dalam diskusi setiap peserta diwajibkan membuat paper minimal satu halaman, jadi tidak hanya narasumber yang diwajibkan menulis paper. Malah ada kesepakatan tidak tertulis, mereka yang tidak membawa paper akan diejek atau sebisa mungkin dibuat malu sehingga minggu berikutnya dia harus bawa tulisan," kata Hudan menjelaskan.

Dari sisi keanggotaan, kelompok ini cenderung eksklusif. "Waktu merekrut anggota itu kami memang sangat eksklusif, semuanya laki-laki karena memang diskusinya malam hari, jumlahnya sekitar 15 orang," kata Hudan. Sifat keanggotaan yang eksklusif karena tidak ada kaderisasi ini juga yang mengakibatkan kelompok ini sudah tidak seaktif 2-3 tahun lalu. Dari sekitar 15 anggotanya, separuhnya sudah berguguran. Jadi, saat ini tinggal 7 orang saja yang masih sering ketemu atau aktif. "Mereka ada yang sudah lulus, ada yang jadi pegawai negeri, dan ada pula yang memilih pulang kampung. Soal masa depan kelompok ini saya tidak khawatir. Kalau eLSTra sebagai sebuah institusi terstruktur, mungkin boleh hilang besok. Tapi, sebagai sebuah spirit, sebagai sebuah api, sebagai sebuah ideologi minimal harus hidup di hati masing-masing anggotanya," kata Hudan Mudaris.

Tempat atau lokasi berkumpulnya penggemar buku, seperti perpustakaan, ternyata juga bisa menjadi embrio sebuah klub buku. Textour, misalnya, adalah komunitas penggemar buku yang sering mengunjungi Rumah Buku, sebuah perpustakaan di kota Bandung. "Awalnya dari sering ngumpul teman-teman dekat, karena kami juga suka baca, kami ketemu lagi di Rumah Buku. Dan, karena kami juga sama-sama suka nulis, lalu kami mulai diskusi. Kebetulan di Rumah Buku ada tempat yang bisa digunakan untuk itu. Jadi, fokusnya memang lebih ke diskusi penulisan. Bagaimana tulisan kami biar mendapat respons, atau kami nulis bagusnya dikirim ke mana?" kata Anwar Holid, salah seorang eksponen Textour. Saat ini anggota Textour berjumlah 10 orang. Selain berdiskusi soal buku dan penulisan, mereka juga kerap membincangkan film yang menjadi koleksi Rumah Buku. "Dulu jadwalnya seminggu sekali, tapi kadang-kadang enggak taat. Malah sekarang agak lama enggak ketemu formal. Kalau sekadar ketemu sih masih sering," kata Anwar menjelaskan.

Saat ini tidak sulit memang menemukan kelompok-kelompok penggemar buku. Nyaris di setiap wilayah terbentuk kelompok semacam ini. Ada kelompok yang dibangun oleh kesamaan hobi, kesamaan penggemar, ataupun kesamaan pemikiran. Bisa jadi sebelumnya sesama anggota pun tidak saling mengenal. Namun, kali ini oleh karena buku, mereka dipersatukan.

Sumber : Kompas, Sabtu, 19 Maret 2005

1 Comments:

At 6:41 PM, Blogger berascapkunci said...

salam, permisi saya mohon tanggapannya. saya mahasiswa program studi ilmu informasi dan perpustakaan. rencananya mau buat omunitas penggemar novel sebagai objek penelitian. studi kasus tentang penggemar cersil Api di bukit menoreh. mohon tanggapan, saran referensi atau aapa gitu. terimakasih

 

Post a Comment

<< Home