Thursday, October 05, 2006

Kami Dipersatukan oleh Buku

"Sejuta topan badai! ...babon bulukan! ...kepiting rebus!..." Bagi para penggemar komik di Indonesia tahun 1970 hingga 1980-an pasti sudah sangat mengenal "umpatan-umpatan" dari Kapten Haddock, salah satu tokoh pendukung yang terdapat dalam komik Tintin, terjemahan asal Belgia karangan George Remi atau yang lebih dikenal dengan Herge’.

KOMIK ini mengisahkan petualangan wartawan muda berjambul bernama Tintin yang selalu ditemani seeokor anjing putih bernama Snowy di berbagai tempat di penjuru bumi. Komik yang di negeri asalnya mulai diterbitkan menjadi buku sejak tahun 1930 ini sarat dengan kisah seru antara Tintin dan teman-temannya, seperti Kapten Haddock, Profesor Calculus, detektif kembar Thompson dan Thomson, dan tentu saja Snowy, dalam membongkar berbagai tindak kejahatan dan teror yang dilakukan pihak-pihak "musuh".

Kendati dalam komik tersebut Tintin berprofesi sebagai reporter, dalam aksi-aksinya ia lebih mirip sebagai seorang detektif yang kerap melakukan investigasi. Oleh karena itu, ia kerap menjadi pahlawan karena lantaran membongkar berbagai tindak kejahatan dengan aksi-aksinya yang sangat berani dan cerdik yang dikemas dalam kisah yang sangat menarik dalam komik tersebut.

Komik petualangan Tintin ini tak ayal menjadi terkenal dan digemari tidak saja di negeri asalnya, tetapi juga merambah hingga ke berbagai negara termasuk Indonesia semenjak tahun 1975, setelah diterbitkan terjemahannya oleh penerbit Indira. Sampai pertengahan tahun 1990-an hampir seluruh komik Tintin, yakni sebanyak 23 judul dari Tintin di Soviet hingga Tintin dan Picaros, diterbitkan. Kecuali satu judul yang belum diterbitkan, yakni karya Herge’ terakhir yang berjudul Alph Art.

Namun, kepopuleran komik Tintin di negeri ini seakan tenggelam memasuki pertengahan tahun 1990-an setelah penerbit Indira tidak lagi mencetak ulang komik Tintin. Akibatnya, semenjak itu komik-komik Tintin menghilang di pasaran. Uniknya, komik bisa saja meredup, tetapi sosok Tintin dan rekan-rekannya tetap membekas pada kalangan tertentu yang sempat menikmati kisah petualangannya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya mailing list Komunitas Tintin Indonesia sejak pertengahan Juni 2003.

"Komunitas Tintin Indonesia itu awalnya cuma iseng dari saya sama teman-teman yang sedang berburu berita mengenai Tintin Jadi, awalnya bukan komiknya, tapi berburu berita tentang Tintin dan merchandise Tintin. Setelah itu saya tanya ke beberapa teman, kalau bikin milis Tintin kira-kira ada yang tertarik enggak ya? Tapi, akhirnya teman-teman bilang bikin aja, toh enggak ada ruginya. Paling-paling kita-kita juga yang meramaikannya," kata Surjorimba Suroto, pendiri mailing list Komunitas Tintin Indonesia. Awalnya Surjo pesimistis karena, menurut dia, meskipun sempat sangat terkenal di tahun 1980-an, sejak pertengahan 1990-an Tintin nyaris tidak dikenal lagi. Namun, akhirnya bersama beberapa temannya yang rata-rata sudah berumur lebih dari 30 tahunan, Surjo membentuk mailing list Tintin Indonesia yang beralamat tintin_id@yahoogroups.com. Saat ini anggotanya sudah tercatat lebih dari 200 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada juga yang tinggal di luar negeri.

"Di milis Tintin ini kita tidak hanya membicarakan masalah nostalgia atau berburu merchandise saja, tetapi kita lebih banyak membahas esensi komik Tintin sebenarnya. Karena, komik Tintin tidak hanya gambar-gambarnya yang lucu, tapi ceritanya sendiri banyak yang masih relevan sampai sekarang, misalnya mengenai politik, sosial, kebudayaan, lingkungan, kriminalitas, dan perang," kata Surjo menjelaskan.

APABILA dirunut ke belakang beberapa tahun sebelum munculnya komunitas Tintin, pada akhir tahun 1999 para penggemar Karl May di Indonesia sudah lebih dahulu merintis membentuk paguyuban yang belakangan di beri nama Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI). Sama dengan komunitas Tintin, paguyuban penggemar novel petualangan asal Jerman, Karl May, ini juga dimulai dari paguyuban maya di internet.

"Paguyuban Karl May ini awalnya justru dari posting saya di milis penggemar classic rock. Waktu itu saya tanya anak- anak, ada enggak ya yang penggemar Karl May. Ternyata di luar dugaan banyak dari anak-anak penggemar musik rock ini juga penggemar Karl May. Saya yang terkaget-kaget karena selama 20 tahun hilang di Indonesia, kok mereka masih pada concern dan tahu," kata Pandu Ganesa, yang menjadi motor dan pendiri PKMI. Setelah tahu bahwa penggemar Karl May masih banyak, maka Pandu Ganesa kemudian merancang situs Karl May.

Situs di dunia maya yang beralamat indokarlmay.com ini akhirnya jadi sekitar bulan Oktober 2000. Sebulan kemudian menyusul terbentuk milis penggemar Karl May pertama di Indonesia.
Secara tak terduga kehadiran PKMI ternyata mendapat sambutan yang hangat dari para penggemar Karl May dan publikasi dari media massa. "Momentumnya adalah saat artikel Dan Damai di Bumi yang saya tulis untuk memperingati 100 tahun Karl May dimuat di halaman depan Kompas. Dan tanggal itu saya akui sebagai hari kelahiran PKMI sebenarnya karena PKMI benar-benar eksis di luar lingkungan kita. Nah, sejak itulah berdatangan orang untuk bergabung, dari hanya beberapa belas melejit hingga akhirnya lebih dari 100 orang anggotanya," kata Pandu menjelaskan.

Kendati di satu sisi akhirnya PKMI benar eksis dan dikenal orang, hal ini terbukti dengan banyaknya publikasi di media massa dan acara-acara diskusi tentang Karl May di berbagai tempat. Namun, ironinya buku-buku karangan Karl May hampir-hampir sudah puluhan tahun hilang di Indonesia. Oleh karena itu, atas dorongan dari penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Pandu Ganesa kemudian mempersiapkan untuk menerbitkan buku Karl May. Hal ini dilakukan karena Pradnya Paramita, penerbit yang selama ini menerbitkan novel Karl May di Indonesia, kurang tertarik untuk menerbitkan buku Karl May lagi. "Akhirnya oleh KPG saya dijadikan "editor tamu". Tugas saya adalah mencari naskah dan penerjemah. Jadi, setelah melalui proses yang cukup lama sekitar dua tahunan, novel Dan Damai di Bumi karya Karl May akhirnya diterbitkan oleh KPG sekitar bulan Oktober 2002. Penerjemahnya Hendarto Setiadi. Selain itu, KPG juga menerbitkan enam buku bergambar karangan Karl May lainnya," tandas Pandu.

Kiprah PKMI ternyata tidak berhenti di sini. Dengan alasan banyaknya permintaan dari anggotanya untuk menerbitkan buku-buku Karl May lainnya dan melepaskan ketergantungan terhadap penerbit, akhirnya Pandu Ganesa bersama empat rekannya di PKMI patungan untuk menerbitkan buku Karl May secara sendiri atau dengan cara indie. "Ini untuk gotong royonglah. Penerjemahnya dibayar, tapi editornya gotong-royong. Desainernya juga gotong-royong. Artinya, semuanya tidak cash and carry," kata Pandu menjelaskan. Hingga saat ini PKMI melalui penerbit Pustaka Primatama telah menerbitkan enam judul buku yang di antaranya adalah Winnetou I, II, dan III atau Trilogi Winnetou yang sangat terkenal itu.

APABILA dirunut, klub-klub penggemar buku atau klub yang ada di masyarakat tidak hanya terbatas pada klub-klub buku seperti Komunitas Tintin atau PKMI yang terbentuk karena kesamaan hobi atau kegemaran terhadap satu buku atau pengarang tertentu saja. Tetapi, ada pula klub-klub buku yang memang dibentuk oleh para pencinta buku sebagai wadah atau ajang berdiskusi sesama pencinta buku untuk membahas berbagai jenis buku. Jadi, dasarnya semata-mata lantaran kecintaan terhadap buku. Ekspresi, Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), misalnya, selain sebagai lembaga pers kampus, sejak dua tahun lalu Ekspresi memiliki divisi wacana sebuah komunitas cinta baca yang orientasi kegiatannya pada diskusi buku.

"Sebagai lembaga pers, di samping menerbitkan majalah dan beberapa media lain seperti buletin, Ekspresi juga mengembangkan tradisi intelektual. Nah, tradisi intelektual itu menurut kami bisa terbangun dari salah satunya adalah kita mencintai buku. Misalnya, apresiasi buku, membaca, menulis, dan juga mendiskusikan," kata Mustakim, salah seorang aktivis Ekspresi. Ia juga mengakui bahwa motivasi sebagian dari anggota Ekspresi ikut dalam diskusi buku biasanya untuk keperluan praktis, yakni menulis resensi di media. Akan tetapi, selebihnya kegiatan membaca buku diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wacana sehingga ketika nanti menulis resensi ataupun opini di media, dia dapat dikatakan telah melakukan suatu proses kritis yang sebenarnya.

Tradisi intelektual yang dikembangkan oleh Ekspresi tersebut saat ini sudah mulai membuahkan hasil. Buktinya, mereka sudah menelurkan beberapa penulis, seperti Muhidin M Dahlan (penulis novel Tuhan, Ijinkan Aku Jadi Pelacur) dan Herlinatiens (pengarang novel Garis Tepi Seorang Lesbian), yang keduanya merupakan jebolan Ekspresi. Selain itu, alumni Ekspresi banyak yang terlibat di berbagai penerbitan buku, terutama di kota Yogyakarta. "Bisa dikatakan penerbit buku untuk Yogya, Ekspresi yang pegang," tutur Sismono La Ode, Pemimpin Umum Ekspresi. Ia menyebutkan bahwa penerbit Jendela, Melibas, Pinus, dan beberapa penerbit lain di Yogya diawaki oleh anggota Ekspresi.

Saat ini paling tidak sekali dalam dua minggu mereka rutin mengadakan diskusi internal. "Pesertanya antara 10-15 orang. Bahkan, akhir-akhir ini malah mingguan karena diskusinya tidak terbatas hanya persoalan buku atau ideologi atau apa, tetapi termasuk diskusi dengan tema tertentu. Jadi, kawan-kawan dikasih majalah atau buku dengan tema tertentu dan kemudian harus dipresentasikan," kata La Ode menjelaskan.

Agak berbeda dengan Ekspresi di UNY yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa, eLSTra-sebuah kelompok diskusi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta-ini sama sekali tidak ada hubungan secara kelembagaan dengan kampusnya. "Lembaga ini memang kita maksudkan sebagai suatu forum berkumpul lintas fakultas yang ada di IAIN sini. Pertama kali waktu itu tahun 2000. Kami membicarakan persoalan filsafat, jadi kami selalu berdiskusi tentang filsafat," kata Hudan Mudaris, salah seorang aktivis eLSTra. Dalam perkembangannya kemudian, diskusi yang dilakukan eLSTra menjadi lebih formal dengan kurikulum dan jadwal yang lebih teratur. "Kami mendiskusikan karya-karya Durheim, Max Weber, dan macam-macam kajian pokok sosiologi lain," kata Zaenal, aktivis eLSTra lainnya.

Salah satu hal yang wajib dilakukan atau syarat menjadi anggota eLSTra adalah dalam kegiatan diskusi mereka wajib berbicara diskusi dan menulis. "Dalam diskusi setiap peserta diwajibkan membuat paper minimal satu halaman, jadi tidak hanya narasumber yang diwajibkan menulis paper. Malah ada kesepakatan tidak tertulis, mereka yang tidak membawa paper akan diejek atau sebisa mungkin dibuat malu sehingga minggu berikutnya dia harus bawa tulisan," kata Hudan menjelaskan.

Dari sisi keanggotaan, kelompok ini cenderung eksklusif. "Waktu merekrut anggota itu kami memang sangat eksklusif, semuanya laki-laki karena memang diskusinya malam hari, jumlahnya sekitar 15 orang," kata Hudan. Sifat keanggotaan yang eksklusif karena tidak ada kaderisasi ini juga yang mengakibatkan kelompok ini sudah tidak seaktif 2-3 tahun lalu. Dari sekitar 15 anggotanya, separuhnya sudah berguguran. Jadi, saat ini tinggal 7 orang saja yang masih sering ketemu atau aktif. "Mereka ada yang sudah lulus, ada yang jadi pegawai negeri, dan ada pula yang memilih pulang kampung. Soal masa depan kelompok ini saya tidak khawatir. Kalau eLSTra sebagai sebuah institusi terstruktur, mungkin boleh hilang besok. Tapi, sebagai sebuah spirit, sebagai sebuah api, sebagai sebuah ideologi minimal harus hidup di hati masing-masing anggotanya," kata Hudan Mudaris.

Tempat atau lokasi berkumpulnya penggemar buku, seperti perpustakaan, ternyata juga bisa menjadi embrio sebuah klub buku. Textour, misalnya, adalah komunitas penggemar buku yang sering mengunjungi Rumah Buku, sebuah perpustakaan di kota Bandung. "Awalnya dari sering ngumpul teman-teman dekat, karena kami juga suka baca, kami ketemu lagi di Rumah Buku. Dan, karena kami juga sama-sama suka nulis, lalu kami mulai diskusi. Kebetulan di Rumah Buku ada tempat yang bisa digunakan untuk itu. Jadi, fokusnya memang lebih ke diskusi penulisan. Bagaimana tulisan kami biar mendapat respons, atau kami nulis bagusnya dikirim ke mana?" kata Anwar Holid, salah seorang eksponen Textour. Saat ini anggota Textour berjumlah 10 orang. Selain berdiskusi soal buku dan penulisan, mereka juga kerap membincangkan film yang menjadi koleksi Rumah Buku. "Dulu jadwalnya seminggu sekali, tapi kadang-kadang enggak taat. Malah sekarang agak lama enggak ketemu formal. Kalau sekadar ketemu sih masih sering," kata Anwar menjelaskan.

Saat ini tidak sulit memang menemukan kelompok-kelompok penggemar buku. Nyaris di setiap wilayah terbentuk kelompok semacam ini. Ada kelompok yang dibangun oleh kesamaan hobi, kesamaan penggemar, ataupun kesamaan pemikiran. Bisa jadi sebelumnya sesama anggota pun tidak saling mengenal. Namun, kali ini oleh karena buku, mereka dipersatukan.

Sumber : Kompas, Sabtu, 19 Maret 2005

Rumah Buku, Seperti Di Rumah Sendiri

Dari namanya saja sudah terdengar akrab bukan? Bagaimana kalau sekali-sekali, Belia mengunjungi Rumah Buku yang terletak di Jalan Hegarmanah No. 52 ini. Jangan langsung mengeluh karena jauh, tapi bayangkan kehangatan dan kenyamanan yang ditawarkan rumah buku, terutama pada Belia yang cinta buku. Belia pasti merasa berada di rumah penuh dengan buku-buku. Belia boleh baca buku-buku ini sepuasnya dari pagi sampai sore. Bagus banget kan untuk ngabuburit nunggu buka?

Rumah Buku menyediakan banyak koleksi buku yang bisa disewakan atau dibeli. Bahkan jika kamu punya banyak buku dan ingin dijual, kamu bisa menitipkan di sini. Koleksi buku di Rumah Buku ini terdiri dari buku lokal dan luar dengan tema sastra, sosiologi/budaya, sejarah, arsitektur, seni, desain, dan filsafat. Harga sewa bukunya pun beragam, dari Rp 500 untuk buku anak-anak hingga Rp 35.000 untuk buku-buku arsitek.

“Kebanyakan buku ini kan koleksi pribadi ya, karena inginnya orang-orang pun bisa ikut baca dan accesible. Banyak banget tuh buku yang susah dicari, tapi banyak orang ingin baca, ya sudah saya buat Rumah Buku dan orang-orang bisa menyewa di sini,” kata Mbak Rani, pemilik Rumah Buku yang berdiri sejak 29 Maret 2003 ini.

Jadi, kalau Belia kesusahan untuk mencari buku-buku Che Guevara, Nietzche, Leo Tolstoy, ataupun Paul Coelho, Belia bisa meminjam di Rumah Buku. Mau yang bahasa asing atau Indonesia, ada di sini. Atau kalau ingin beli, Rumah Buku punya beberapa koleksi buku luar dengan harga yang sangat miring.

Bagi Belia yang mungkin kurang suka buku, Rumah Buku pun menyewakan CD musik dan film dalam bentuk VHS dan DVD. Nggak semua film bisa dibawa pulang ke rumah, tapi asyiknya Belia bisa mengajak teman-teman untuk nonton film bareng langsung di Rumah Buku. Harga nontonnya nggak menguras kocek deh, paling-paling tiap orang bayar Rp. 4.000,00 murah kan? Tempat nontonnya pun nyaman dengan sofa empuk dan televisi yang gede. Mau pake layar besar seperti layar tancep supaya bisa lebih rame? Rumah Buku dengan senang hati menyediakannya.

Serunya lagi, film-film yang ditawarkan di Rumah Buku hampir semuanya nggak pernah diputer di bioskop Indonesia. Ada film “Dancer In The Dark” yang dibintangi Bjork, “Psycho”-nya Alfred Hitchcock yang versi judulnya, sampai “Trainspotting” yang dilarang diputer di Indonesia. Penasaran ‘kan?

Jadi sekarang terserah belia, mau baca buku, nonton film, ataupun dengerin musik, rumah buku menyediakannya atau kalau ingin buka puasa, di sini ada kafe kecil yang menyediakan makanan dan minuman. Untuk secangkir teh atau kopi, Belia akan mendapatkan secara gratis setiap kali nongkrong di sini, asal pas buka puasa lho.

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 26 Oktober 2004

Berakhir Pekan di Kafe Baca Makassar

Bagaimana sebaiknya melewatkan akhir pekan dengan cara berbeda? Bagi warga kota, agaknya tak banyak pilihan selain taman rekreasi dan bermain, pusat-pusat belanja, resto dan kafe, atau mungkin juga toko buku.

Rekreasi, sebagai bagian dari aktivitas masyarakat kota, telah menjadi kebutuhan yang senantiasa harus terpenuhi. Ia telah menjadi primer. Dan seakan menyahuti kebutuhan yang makin berkembang itu, para pemodal pun tak pernah kehabisan akal. Kreativitas pun seakan tak habis-habis untuk mengekploitasi peluang. Seiring dengan itu, rekreasi yang pada mulanya murah dan gratis, telah tercipta menjadi mahal dan ekslusif, bahkan sudah menjadi penanda status sosial.

Makassar, sebagai salah satu kota yang perkembangannya sangat pesat pun tak ketinggalan. Kreativitas dan idealisme untuk menyediakan rekreasi murah dan terjangkau pun muncul di kota ini, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Seakan ingin menjawab ekpansi modal dari kaum industrialis, di beberapa pojok kota kini bermunculan apa yang disebut kafe baca, yang dimotori oleh anak-anak muda.

Mereka mencoba mewujudkan sebuah oase yang mencerdaskan, bersahaja, namun tetap nyaman sebagai tempat rekreasi. Di bagian utara kota Makassar, Kafebuku bisa menjadi pilihan tepat. Kafebuku terletak di Jalan Tentara Pelajar 141, sekitar 50 meter dari Toko Buku Promedia.

Di sana pengunjung bisa membaca sambil menikmati aneka jenis sajian. “Di sini tersedia bermacam-macam makanan dan minuman. Bakso, pisang goreng keju, roti bakar serta aneka jenis minuman, dan tentu saja berbagai macam jenis buku,” kata Santy, pemilik Kafebuku, yang masih berstatus mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Tak salah kalau Kafebuku memakai "A new, cozy place to read and eat" sebagai tag line-nya. Suasananya memang nyaman, bahkan dilengkapi pendingin udara yang membuat pengunjung nyaman berlindung dari gerahnya cuaca. Di Jalan Dr. Sam Ratulangi No 136, hadir Bookcholicafe. Suasananya pun nyaman dan tenang, sangat cocok bagi pengunjung untuk menyelesaikan sebuah buku sebelum kembali pada rutinitas kantor, kuliah, atau sekolah.

Bookcholicafe juga menyediakan aneka jenis minuman dan makanan untuk menemani keasyikan membaca, dengan daya tarik koleksi ratusan buku yang tentu saja tidak akan ditemukan di kafe pada umumnya. Kafe baca yang diasuh oleh Azwar ini, seorang mahasiswa STMIK Karisma Makassar, memang masih terbilang baru, namun menjadi atlernatif berakhir pekan yang mengasyikkan.

Buku-buku populer seperti teenlit, chicklit, dan buku-buku how to mendominasi koleksinya. Ini sangat tepat untuk para karyawan dan siswa-siswa SMP dan SMA yang memang banyak berada di seputar jalan utama di kota Makassar ini. Bila membaca sambil menikmati makanan dan minuman belum cukup sebagai pilihan, Rumah Baca Lontarak menawarkan sajian unik: membaca dan membatik.. Terletak di Jalan Monumen Emmy Saelan No 5/43, tempat ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.

Menurut Agis, sang pengelola, mereka mengusung ide “Books, Library, and Handycraft”. Selain sebagai rumah baca, Lontarak yang berdiri pada 4 April 2005 ini, juga telah menjadi distributor buku untuk wilayah Makassar. Buku-buku yang tersedia, dijual lebih murah 10 – 25% bila dibandingkan dengan harga di toko buku.

Di kawasan timur Makassar yang menjadi tempat berdirinya sejumlah perguruan tinggi, berdiri sejumlah kafe baca yang membidik mahasiswa sebagai konsumen utama. Sebutlah, Hitam Putih di Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9, di Kompleks Perumahan Hartaco Jaya, di samping kampus Universitas Islam Makassar.

Sementara tak jauh dari Kampus Universitas Hasanuddin, di Jl Perintis Kemerdekaan No. 76, berdiri Kafe Baca Biblioholic—yang memiliki koleksi 6.000 buku. Bibliocholic yang didirikan 13 April 2003 ini menyediakan aneka minuman, khususnya berbagai jenis kopi yang bisa menjadi teman setia menikmati buku-buku menarik. Dengan ruang perpustakaan yang luas, para pengunjung dimanjakan oleh suasana tenang dan santai untuk menikmati makanan dan minuman sambil membaca.

Pertemuan penggemar buku di Biblioholic. Foto : M. Aan Mansyur. M. Aan Mansyur, pendiri Bibliocholic Para pengelola Bibliocholic juga mengadakan kursus penulisan dan diskusi seputar perbukuan, serta aktif menjalankan kegiatan penelitian dan literasi melalui kerjasama dengan komunitas literasi dan penerbitan di kota-kota lainya. Bagi para pencinta sastra dan buku filsafat, Bibliocholic adalah pilihan yang tepat.

Tapi selain buku serius, kafe baca ini pun memiliki koleksi komik yang lengkap. Sementara tidak jauh dari pusat keramaian Mall Panakkukang, berdiri Starbook Cafe di Jl. Bougenville No 31 Panakkukang Mas. Tempat baca ini banyak menyediakan buku-buku filsafat di rak koleksinya. Starbook menyediakan aneka makanan dan minuman, mulai dari yang lokal seperti pallu butung sampai yang internasional seperti sandwich.

Pendiri dan pengasuh Biblioholic : M. Aan Mansyur.Masih banyak tempat-tempat lain yang bisa didatangi untuk mengisi akhir pekan. Pemerintah Kota Makassar pada bulan Juni 2005 juga telah mencanangkan Gerakan Makassar Gemar Membaca yang salah satu programnya adalah mendirikan taman baca di setiap kecamatan yang ada di Makassar. Bila program ini betul-betul berjalan, maka tidaklah berlebihan mengharapkan Kota Makassar menjelma sebagai lumbung taman bacaan, yang menghadirkan fasilitas rekreasi yang mencerdaskan. (p!) Alamat Beberapa Kafe Baca di Makassar:

1. Kafe Baca Biblioholic: Jl Perintis Kemerdekaan KM 9 No 76 (Depan Mercedes, PT Timur Permai) Makassar. Telp. 081-355-464-585 E-mail: pecandubuku@pecandubuku.com, weblog: www.pecandubuku.blogspot.com
2. Rumah Baca Lontarak: Jl Monumen Emmy Saelan No 5/43 Makassar. Telp. 0411-868805, 5747609. E-mail: lontarak@yahoo.com
3. Kafebuku: Jl Tentara Pelajar No 141 Makassar. Telp 0411-336108
4. Bookcholicafe: Jl Dr Sam Ratulangi No 136 (Samping Gedung Kencana 45) Makassar. Telp. 08124282506
5. Hitam Putih: Jl Perintis Kemerdekaan KM 9 Hartaco Jaya, Makassar.
6. Buu Kuu: Jl Sehati No 4 Makassar, Telp. 08194222249
7. Starbook Cafe: Jl Bougenville No 31, Panakukang Mas, Makassar. Telp. 0411-441636

Sumber : Panyingkul.Com, Kamis, 10-08-2006

Buku KafeBaca dan Santap Sama Nikmatnya

PENGGEMAR buku dan kuliner bersatu dalam sebuah tempat. Sebuah tempat kongko telah menyatukan keduanya. Kita dapat menikmati keindahan senja di pinggiran kota. Yuk, kita cicipi menu sebuah kafe di perbatasan Jakarta dan Depok, Jawa Barat.

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat kaki melangkah ke dalam sebuah kafe? Betul, suasana keremangan segera menyergap bersamaan merdunya alunan musik. Di sisi lain, keindahan legok raga kaum Hawa berbalut gaun nan tipis dengan sedikit paha yang mulus serta minuman menghangatkan badan, wine dan sejenisnya.

Hhmmm…Namun, jangan pernah membayangkan suasana seperti itu begitu mengunjungi kafe yang berada di kawasan pendidikan di pinggir Jakarta. Ubahlah pikiran ke dalam keindahan ilmu pengetahuan yang telah mengantarkan manusia ke alam kemajuan, hangatnya cappuccino caramello dan gurihnya keripik khas Mexico, Nachos. Menu spesial itu tersaji dengan acar tomat segar, bawang bombay, daun ketumbar dan lemon.

Lembutnya alunan musik jazz akan mengantarkan Anda ke dunia Socrates dan Plato. Dunia ilmu dan dinamika filsafat, di sini Anda bisa melakukan apa yang dilakukan Plato atau Aristotels, berdiskusi, menuangkan segala inspirasi menjadi sebuah karya. Bagi kaum eksekutif muda yang sedang melanjutkan ke S2, Buku Kafe menjadi persinggahan yang pas untuk menyelesaikan tesis. Jangan bingung bila kekurangan bahan bacaan atau data, tinggal menoleh ke kiri dan kanan. Tajamkan mata bagaikan mata seorang Einstein sedang mencari data, ribuan buku terpajang di dinding.

Inilah kelebihan Buku Kafe, bila resto atau kafe lainnya lukisan minuman dan perempuan menjadi aksesori ruangan. Buku Kafe mengambil desain lain, menjadikan buku dan majalah sebagai aksesoris ruangan. Koleksi buku mereka mencapai angka 5.000. Tiap bulan, ada penambahan koleksi baru. ”Saya berasal dari keluarga pencinta buku, ribuan buku terlantar di rumah. Dari pada mubazir akhirnya kita memutuskan mau mendirikan taman bacaan,” kata Surya Nursyah Doeuna menjelaskan asal-usul berdirinya Buku Kafe.

Namun di tengah jalan, tiba-tiba terlintas untuk membuat kafe bernuansa ilmiah dan buku. Akhirnya, jadilah Buku Kafe.Sederhana dan EleganBuku Kafe, sebuah nama yang sederhana namun elegan, mengandung makna yang dalam khususnya bagi pencinta ilmu. Buku adalah bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan, bagi pemikir, buku bagaikan istri kedua. Ini juga dilakukan oleh pendiri negara Indonesia, Muhammad Hatta dan Tan Malaka, ke mana pun mereka pergi selalu membawa berpeti-peti buku.

Bagi mereka hidup terasa mati bila tidak ada buku di sampingnya. Anda mungkin tidak tahu, tahun berapa pertama Majalah National Goegraphic kali terbit. Majalah yang membahas tentang, geografis, sosial dan budaya ini terbit jauh sebelum Soekano lahir. Tahun 1886 majalah National Geographic sudah menjadi bacaan masyarakat Amerika Serikat. Informasi kecil ini sulit Anda dapatkan di perpustakaan atau sumber informasi lainnya.

Dengan menjadi anggota Klub Baca Buku Kafe, Gold Umum Rp500 ribu, khusus untuk pelajar ada Gold Mahasiswa Rp400 ribu Anda akan mendapat semua informasi dan bahan-bahan untuk skripsi dan tesis selama satu tahun. Bisa membawa pulang tiga buah buku tanpa jangka waktu dengan frekuensi pinjaman yang tidak dibatasi. Bila mau membaca di tempat, akan mendapat diskon 10% untuk pembelian makanan dan minuman serta pembelian buku bila tertarik pada buku yang Anda pinjam.

Walau sebagai pendatang baru, Buku Kafe sudah banyak dikenal. Karena menunya yang tak kalah dengan kafe lain. Chicken Parmigiana and Pasta Fettucine, terdiri dari dada ayam dibungkus dengan tepung lalu diberi keju, rasanya yang soft dan mild diletakkan di atas pasta fettucine ditambah dengan garlic bread menjadikan makanan ini menu favorit.

Tak kalah nikmatnya dengan Fillet Mignon (Steak ala Buku Kafe), daging diolah dengan bumbu spesial Buku Kefe ditambah saus lada disajikan dengan kentang goreng dan sayuran membuat Anda selalu mengenang Kafe berwarna coklat ini. Fillet Mignon lebih terasa nikmat bila minumannya Milshakes yang terbuat dari strawberry Milkshake.

Menurut Surya, pada hari kerja rata-rata pengunjung memang didominasi dari kalangan anak-anak muda. Mereka datang berkelompok seusai mengikuti perkuliahan. Begitu malam menyapa, pasar bergeser kepada kaum pekerja muda yang ingin melepas lelah sambil menyalurkan hobi membaca. ”Pengunjung dalam satu hari antara 70 – 90 orang. Waktu akhir pekan, yang datang kebanyakan adalah keluarga,” kata Surya.

Kapasitas kafe sendiri sanggup menampung 37 orang dalam satu kali pertemuan. Bagi perokok telah tersedia ruang depan yang nyaman. Dan Surya telah menggaransi, kafe yang dibuka sejak Desember tahun lalu itu bebas dari alkohol.

Untuk menjaring peminat, Surya telah merancang sejumlah program acara. Pada Januari lalu, mereka telah sukses menggelar acara baca puisi. Dalam waktu dekat, mereka akan mengadakan diskusi buku. ”Satu lagi, kami mengefektifkan promosi dari mulut ke mulut.” Kepuasan pengunjung jadi nomor satu, dari situ mereka lantas berharap sistem getok tular berjalan mulus.

Sumber : Harian Sinar Harapan

Mamat B. Sasmita : Membuka Rumah Baca Untuk Masa Pensiun

BERBEDA dengan umumnya para calon pensiunan yang mencari kegiatan lain yang berciri bisnis, menjelang pensiun dua tahun lagi, Mamat B. Sasmita, karyawan Telkom pusat kelahiran Tasikmalaya tahun 1951 ini, membuka Rumah Baca.

Bermula dari kesukaannya sejak kecil terhadap buku membuatnya rajin mengoleksi berbagai buku berbahasa Sunda, Indonesia dan Inggris. Salah satu alasan ia mengumpulkan buku-buku berbahasa Sunda adalah karena ketika waktu ia kecil dulu, satu-satunya hiburan adalah dongeng atau cerita yang disampaikan oleh kedua orangtuanya dalam bahasa Sunda.

Waktu berusia tiga tahun dibawa ayahnya hijrah ke Bandung. Sepulang kantor, sang ayah yang bekerja di Dinas P & K Bandung, sering mendongeng yang ia hapal atau membacakan cerita dari buku-buku berbahasa Sunda seperti Wawacan Purnama Alam -buku klasik bahasa Sunda- yang membacanya sambil dinyanyikan. Sedangkan ibunya, sering bercerita setelah magrib menjelang isya.

Umumnya cerita nabi yang beberapa dibaca dari buku berhuruf Arab tapi dalam bahasa Sunda.
Tugasnya di Telkom membuat ia sering berpindah-pindah. Ketika bertugas di Mataram, kecintaannya pada buku selain terus ia pupuk, ia juga bagi kepada lingkungannya tinggal. Ia titipkan buku-buku koleksinya pada tetangganya untuk dibaca siapa saja terutama anak-anak.

Setelah kembali ke Bandung, kegemarannya terhadap buku juga ia bagi ke masyarakat di pedesaan Jawa Barat melalui salah satu program Yayasan Perceka, yayasan yang ia dirikan bersama rekannya di milis KUSnet (Komunitas Urang Sunda di Internet, milis urangsunda@yahoogroups.com). Program itu bernama Pabukon Simpay Katresna (Perpustakaan Tali Asih) yang baru tersebar di 15 tempat bekerja sama dengan jaringan 1001buku. Caranya seperti yang ia lakukan dulu di Mataram, menitipkan buku-buku di sebuah rumah untuk dibaca anak-anak di sekitarnya.

Rumah Baca
Karena koleksi buku-buku di rumah lumayan banyak, Ua Sasmita -demikian ia biasa dipanggil- merasa sayang kalau koleksinya itu hanya dibaca oleh keluarganya saja. Pada bulan Pebruari 2004 ia memasang papan nama "Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana" di depan rumahnya. Kata jeung sajabana artinya 'dan sebagainya'.

Ia pilih nama itu mengingat koleksi bukunya tidak hanya dalam bahasa Sunda tetapi banyak juga yang dalam bahasa Indonesia -yang membahas mengenai kebudayaan Sunda maupun tidak, sedikit Inggris dan buku antik berbahasa Belanda yang ia dapatkan di Pasar Suci Bandung. Buku berbahasa Belanda terutama yang berhubungan dengan Jawa Barat masa lalu termasuk tanaman dan lingkungan. Koleksi bukunya terdiri dari kumpulan cerita pendek, novel, puisi, wawacan, biografi, cerita pantun, bacaan anak-anak, dan buku non-fiksi.

Ada tetangganya yang memberi komentar kenapa menggunakan dua bahasa: Rumah Baca Buku Sunda bahasa Indonesia, Jeung Sajabana bahasa Sunda. Ua Sas menjawab dengan nada bercanda, Jeung Sajabana itu adalah nama rumah baca itu! Baginya, konsep Rumah Baca agak berbeda dengan Taman Bacaan. Rumah Baca ia maksudkan untuk membaca bersama-sama di tempat itu, gratis tapi tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang.

Tapi bila memang perlu sekali Ua Sasmita bersedia meminjamkan tapi tentunya tidak kepada sembarang orang. Sedangkan Taman Bacaan -istilah yang sudah lebih dulu ada, menurutnya, buku-bukunya memang dipinjamkan dengan cara sewa, jadi Taman Bacaan sebenarnya adalah tempat menyewa buku, tidak benar-benar atau jarang sekali jadi tempat untuk membaca dan gratis.

Umur rumah baca ini telah satu tahun. Bertempat di ruang tamu rumah tinggalnya yang dirubah jadi perpustakaan dengan beberapa rak buku di tepi dinding di komplek perumahan Margawangi, hanya terpaut seratus meteran dari rumah Kang Ibing 'Si Kabayan' Kusmayatna. Umumnya yang datang sengaja ingin mencari buku-buku Sunda termasuk murid-murid sekolah yang mencari sajak dalam bahasa Sunda (sepertinya ditugaskan gurunya di sekolah). Kadang-kadang pengunjung jenis ini sampai luber ke teras rumah. Pengunjung yang berusia di atas 50 tahunan yang datang umumnya untuk mencari buku berbahasa Sunda klasik atau yang pernah mereka baca ketika duduk di SD dulu.

Ya, untuk keperluan nostalgia pada masa awal pendidikan mereka di sekolah dasar dulu. Menurut Ua Sasmita yang memiliki satu putri kelas 2 SD ini, pengunjung senior itu bila dilihat dari buku bacaan bahasa Sunda yang dulu mereka baca di SD, dapat digolongkan dengan angkatan Rusdi jeung Misnem (Rusdi dan Misnem), angkatan Gandasari dan angkatan Taman Pamekar. Ketiga buku pelajaran bahasa Sunda itu dalam tiga kurun waktu yang berbeda, beredar luas di sekolah dasar di Jawa Barat (termasuk Banten).

Rusdi jeung Misnem adalah buku bacaan yang boleh dibilang paling awal di SD dahulu. Pernah ada seseorang yang telah lanjut usia berkeliling dengan sepeda di komplek perumahan Margawangi sambil melirik-lirik papan nama Rumah Baca. Mamat B. Sasmita menyapanya. Ternyata sang Bapak Tua itu ingin melihat buku dan tentu saja langsung dipersilahkan masuk. Yang pertama ia tanyakan ternyata buku Rusdi jeung Misnem yang langsung Ua Sas cari di rak dan diserahkan fotokopinya -yang asli sudah tidak ada. Si Bapa Tua langsung membacanya dengan antusias, beberapa bagian masih ia ingat dan hapal!

Koleksi terbanyak Rumah Baca ini adalah buku-buku berbahasa Sunda yang Ua Sasmita koleksi sejak lama untuk mengobati kerinduannya ke kampung halaman ketika bertugas di berbagai tempat di Nusantara. Salah satu alasannya adalah bahwa buku-buku Sunda klasik sudah mulai sulit mencarinya. Ia menilai toko buku yang menjual buku bahasa Sunda seperti kurang serius. Di toko buku besar seperti Gramedia, buku-buku bahasa Sunda juga dijual, hanya mencarinya harus teliti karena bila tidak hapal tempatnya kadang-kadang tidak dtemukan.

Buku berbahasa Sunda yang sering dipinjam diantaranya adalah tiga buku klasik di atas, sedang buku cerita/novel adalah Carmad, Sri Panggung, Rusiah nu Goreng Patut (Rahasia yang Bertampak Jelek, cerita Garnadi Bandar Kodok yang pernah sangat terkenal di masyarakat Sunda, malah sempat dibuat lagunya). Ada juga yang meminjam buku kumpulan sajak, bacaan anak-anak seperti Nyaba Ka Leuweung Sancang (Mengembara ke Hutan Sancang), Guha Karang Legok Pari (Goa Karang Legok Pari) dan beberapa yang lain. Buku berbahasa Indonesia yang laku dibaca pengunjung adalah novel, biografi, sejarah serta filsafat. Sementara novel Salman Rushdie jarang yang menjamah, mungkin karena tebal dan sempat menghebohkan dunia.

Buku Antik
Selain buku-buku terbitan ulang yang relatif baru, Rumah Baca ini juga mengoleksi buku antik. Koleksi buku tertua yang dimiliki Rumah Baca ini adalah Dictionary of Sundanese Language of Java karya Jonathan Rigg yang terbit tahun 1862 atau…143 tahun lalu! Di sampulnya tertera penerbitan kamus ini didukung oleh Batavia Society of Science, mungkin semacam himpunan ilmuwan Jakarta waktu itu. Selain itu tiga jilid buku -seluruhnya empat jilid dalam bahasa Belanda tentang catatan perjalanan orang Belanda karya De Hans. Koleksi lain yang tergolong antik adalah Kamus Belanda-Sunda karya Colsma dan satu buku karya Pleyte, orang Belanda yang meneliti sejarah Sunda.

Cita-cita Ua Sasmita membuka Rumah Baca menjelang pensiun ini tidaklah muluk-muluk, selain untuk mengisi waktu luang nanti di kala pensiun, ia juga ingin sekedar mengajak tetangga atau lingkungannya membaca buku-buku yang ada dan berharap sedikit banyak ada manfaatnya.

Alamat Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana
Komp. Perumahan Margawangi, Jl. Margawangi VII no 5 Bandung
Telp. 022 7511914, e-mail: matsasmita@yahoo.com
(MJ)

Sumber : Majalah Mata Baca, Mei 2005

Budaya Membaca Masih di Awang-awang

(Menyambut Bulan Gemar Membaca )
Oleh: Muh Muslih

ADALAH Prof Dr Fuad Hassan, mantan Mendikbud merasa jengkel ketika berbicara tentang rendahnya budaya membaca bagi masyarakat Indonesia dan kendala-kendala yang dialami dalam meningkatkan hal itu. "Lagu lama", katanya, menanggapi alasan tentang merosotnya produksi buku dan terbatasnya jumlah perpustakaan sebagai alasan utama menanggapi tak tersedianya buku yang baik dan menarik sebagai faktor signifikan dalam menggaet calon pembaca buku.

Memang selain masih kentalnya budaya lisan bagi masyarakat kita, faktor keterbatasan buku bacaan yang baik dan menarik serta keterbatasan penyebarannya juga menjadi titik pemicu rendahnya minat baca bangsa Indonesia.

Selain itu slogan untuk menumbuhkan minat baca buku yang dibuat pemerintah seperti: Budayakan membaca buku, Buku adalah jendela dunia, Biasakan memberi hadiah buku, dll. Hampir tak terdengar gaungnya di lapisan masyarakat bawah, yakni pedesaan, kecuali anak-anak sekolah yang kebetulan mendapat pinjaman buku-buku paket pelajaran dari sekolah. Tentu, dengan slogan saja tak cukup.

Ironis memang, di satu sisi pemerintah menganjurkan dan mendorong masyarakat untuk membiasakan baca buku dan membentuk budaya baca di sisi lain, upaya untuk itu tidak tertangani secara serius dan bahan bacaan itu tidak tersedia . Untuk membuktikan hal itu tak sulit, cukup kita amati berapa banyak perpustakaan di tingkat desa? Hampir tidak ada, bahkan di kecamatan pun juga tidak tersedia perpustakaan umum. Paling, mungkin baru ada di kota atau kabupaten.

Apabila kita ingin memajukan masyarakat lewat membaca maka basisnya adalah desa, terutama di era otonomi daerah ini. Dalam hal ini kita berbicara di pulau Jawa apalagi di luar itu, kondisinya tentu lebih memprihatinkan.

Upaya meningkatkan minat baca dan pemenuhan bahan bacaan sudah seharusnya menjadi agenda utama dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa selain usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah lewat dunia pendidikan. Tanpa campur tangan yang serius dari pemerintah, maka peningkatan minat baca dan pemenuhan bahan bacaan akan berjalan tertatih-tatih. Itu berarti kita tetap akan menduduki rangking kedua terbawah di antara negara-negara di Asia dalam hal pendidikan, karena masyarakat yang terpelajar (educated society) selalu berlandaskan atas kecintaan mereka terhadap buku dan membaca telah menjadi kebutuhan penting selain kebutuhan pokok sehari-hari.

Bila dibandingkan dengan tetangga kita, Malaysia, dalam hal minat baca dan oplah buku, kita sangat jauh tertinggal. Data statistik 1996 menyebutkan, dalam 10 tahun terakhir Indonesia baru menerbitkan 2500 judul buku. Sementara, di Malaysia yang berpenduduk sepersepuluh dari negara kita sudah memproduksi 9.600 judul buku.

Terus dari mana kita harus memulai mengatasi masalah itu? Apakah penyediaan buku atau peningkatan minat baca yang harus didahulukan? Mestinya hal itu harus berjalan seiring. Peningkatan minat baca perlu diwujudkan dalam bentuk gerakan nasional yang terstruktur dan terencana secara baik dan kontinyu. Gerakan itu tidak cukup hanya menjadi tugas Depdiknas semata, tetapi perlu dipikirkan lembaga yang mewadahi koordinasinya.

Penulis mengusulkan bentuk lembaga semacam Badan Koordinasi Peningkatan Minat Baca Nasional (Bakorpembacanas) yang memiliki struktur formal dari pusat hingga daerah sampai menjangkau lapisan bawah di seluruh pelosok negeri.

Gerakan Nasional Gemar Membaca harus mampu menjangkau seluruh strata penduduk mulia usia dini, usia sekolah hingga usia dewasa. Mengapa demikian?

Usia Dini
Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Si Orok yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron.
Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka. Di Amerika buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembah anak) terbitan Sesame Street sangat digemari sebab isinya yang sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

Inilah yang perlu mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Seperti saat Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional dicanangkan pemerintah dengan hasil yang menggembirakan, maka demikian pula mestinya yang akan dilakukan dalam Gerakan Peningkatan Minat Baca (BPMB). Gerakan ini merupakan usaha penyadaran bagi orang tua tentang pentingnya membaca mulai tingkat RT, RW, dusun, desa, hingga tingkat nasional.

Usia Sekolah
Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Dengan diadakannya Proyek Inpres tentang pengadaan buku bacaan di sekolah, maka semakin banyak pula bahan bacaan bagi anak sekolah. Akan tetapi dengan adanya krisis moneter nampaknya proyek tersebut tidak segencar dulu lagi bahkan sekarang pemerintah lebih berkonsentrasi untuk menerbitkan buku-buku paket pelajaran.

Hal ini menjadi langkah mundur bagi dunia perbukuan. Penulis-penulis yang berlatar belakang tenaga kependidikan pun menjadi berkurang karena menyempitnya lahan yang ada. Padahal kita bisa berharap dari para guru yang bisa menulis akan lebih memberi warna bagi bahan bacaan anak.

Pada usia sekolah ini, buku yang paling sering dijamah selain buku paket pelajaran adalah buku komik. Bahkan bila mereka ditanya asyik mana membaca buku pelajaran dengan komik, mereka akan menjawab serempak komik.

Kesenangan anak usia sekolah terhadap buku cerita bergambar ini pun ditangkap oleh Jepang yang memang sangat terkenal komiknya, sehingga tak heran bila di pasaran buku dibanjiri komik dari Negeri Matahari Terbit itu seperti: Kungfu Boy, Dragon Ball, Doraemon dll.
Sebenarnya pemerintah dan penerbit dapat melirik ke arah ini. Apabila di Jepang buku-buku pelajaran dibuat dalam bentuk komik untuk lebih membangkitkan minat belajar siswa, mengapa kita tidak mencoba dalam bentuk komik khas Indonesia?

Selain buku, perpustakaan sekolah pun menjadi sarana yang perlu mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Ia seolah jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity). Bahkan karena pentingnya perpustakaan pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

Namun apabila kita menengok kondisi perpustakaan sekolah kita, maka akan banyak mengundang keprihatinan karena selain miskin koleksi pustaka, juga kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku dari pada perpustakaan sekolah. Oleh karenanya tujuan perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca tidak bisa terwujud. Bahkan dengan nada yang agak pesimis, seorang pakar pendidikan, J. Drost, SJ mengatakan, sekolah tak bisa diandalkan untuk menanamkan gemar membaca.

Memang bila kita mengamati kondisi perpustakaan di sekolah akan menjumpai hal-hal berikut.
Pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Masih banyak terlihat ruang-ruang perpustakaan yang tidak terpelihara, buku-buku tidak tertata baik dan terlihat kumuh. Kondisi seperti ini tentu berdampak negatif terhadap minat siswa untuk mau membaca. Masih banyak kepala sekolah yang kurang berminat menyisihkan dana anggaran untuk keperluan pengadaan buku atau tambahan buku baru.

Kedua, kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka pada saat jam istirahat selama 15 menit sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya cukup untuk membuka-buka lembaran gambar di majalah. Sedang jam khusus untuk membaca di perpustakaan jarang ada di sekolah atau tidak ada sama sekali.

Ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustaaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Di Jepang sejak 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka mengembangkan system distribusi buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Bagi mereka yang tidak bersekolah karena alasan prinsip tidak punya biaya seperti yang dialami anak-anak jalanan serta bagi anak-anak usia sekolah di luar jam sekolah perlu dipikirkan bagaimana mengatasinya.

Pemerintah perlu memperbanyak armada mobil perpustakaan keliling ke kampung-kampung. Selain itu perlu menggalang kerja sama dan menggugah kesadaran masyarakat untuk membuat taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa yayasan yang menyelenggarakan taman bacaan untuk anak-anak di daerah pinggiran semacam: Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta, Taman Bacaan milik yayasan artis Yessy Gusman perlu mendapat dukungan semua pihak berupa materi maupun nonmateri.
Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa tentu saja lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku dll. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat dll.
Hal ini tentu akan berkembang lebih cepat apabila pemerintah mau memberikan kemudahan-kemudahan pada penerbit berupa harga bahan kertas yang murah, serta pemberian kredit lunak bagi penerbit yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat bawah.

Selain itu lomba-lomba penulisan buku bacaan agar lebih diperbanyak dengan hadiah yang lebih menarik dan besar seperti dalam acara kuis-kuis yang hampir tiap hari diadakan oleh beberapa stasiun TV swasta dengan menggandeng perusahaan-perusahaan nasional dan multi nasional. Dengan kegiatan tersebut niscaya akan bertambah penulis-penulis yang semakin handal.
Acara bedah buku mestinya menjadi menu wajib bagi setiap stasiun radio dan TV dengan bungkus entertainment yang memungkinkan acara itu bisa laku dijual.

Perpustakaan yang ada supaya ditambah dengan fasilitas teknologi mutakhir seperti internet. Pada Dana Alokasi Umum (DAU) atau Dana Alokasi Khusus (DAK) dianggarkan untuk penambahan jumlah perpustakaan dengan koordinasi Badan Koordinasi Peningkatan Minat Baca Nasional (Bakorpembacanas) seperti yang diusulkan penulis.

Dalam era otonomi daerah, hal itu perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari DPRD agar Pem0da memiliki kepedulian terhadap masalah minat baca masyarakat. Tidak semata-mata getol membuat terobosan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun juga harus meningkatkan sumber daya masyarakat lewat gerakan membaca. Semoga hal itu bisa terlaksana. (18)

- Muh Muslih, S Ag, guru MTs N Windusari Magelang.

Sumber : Suara Merdeka, 3 September 2003

Back To Book

Riau memang Negeri Sahibul Kitab. Dari masa lalu, ketika tradisi menulis di buku belum familiar di Indonesia, Riau sudah memiliki penerbit. Puluhan buku dicetak, baik bekerja sama dengan Singapura (Tumasik), maupun dilakukan sendiri. Bahkan, untuk beberapa kali, penulis-penulis Riau banyak menjalin kerja sama dengan penulis dari Belanda dan beberapa bangsa lain dari Eropa.

Dan, kini Riau juga memiliki segudang buku baru. Selama tahun 2004-2005, ratusan judul buku telah diluncurkan. Baik yang ditulis secara serius dalam bentuk sebuah kajian, hasil pemikiran sendiri, atau sebatas kumpulan tulisan di koran-koran. Puluhan penulis Riau, seakan berlomba untuk menjadi yang pertama dan terutama dalam menulis buku. Tak heran, kalau orang seperti Isjoni, Tabrani Rab, dan penulis muda lainnya, bisa menghasilkan buku lebih dari lima judul sepanjang tahun. Angka yang fantastis, memang.

Tak salah, kalau kemudian Amarzan Lubis, wartawan Tempo menulis di medianya bahwa Riau kembali menjadi Negeri Sahibul Kitab. Di negeri ini memang banyak terdapat penulis dan penerbit. Kalau penulis berlomba, penerbit juga berlomba. Penerbit besar seperti Yayasan Pusaka Riau, Unri Press, UIR Press, dan lainnya, juga berlomba untuk menjadi yang terbaik dan terbanyak dalam mencetak buku. Mereka, bahkan mencoba bersaing dengan penerbit nasional sekelas Gramedia, Grasindo, Adicita, dan lainnya.Lalu, bagaimana efek penulis dan penerbit bagi dunia pengetahuan Riau? Apakah status sebagai Negeri Sahibul Kitab telah mampu mengangkat derajat pengetahuan masyarakat, meningkatkan jumlah melek membaca, dan pada akhirnya akan berpengaruh kepada tingkat pendidikan?

Untuk yang satu ini, nampaknya perlu ada kaji ulang. Sebab, sampai sekarang Riau masih berada di posisi terbelakang dalam melek huruf. Tingkat pendidikan yang rendah menjadi bukti lain betapa masyarakat Riau memang tidak sejahtera di bidang pendidikan. Program pemerintah melalui pengentasan kebodohan, sampai kini masih menjadi tanda tanya besar yang belum tertuntaskan.Gerakan Riau MembacaMelihat persoalan ini pula, Pemprov Riau mempunyai pandangan jauh ke depan. Walaupun tidak akan bisa menikmati hasilnya dalam sebulan atau dua tahun ke depan, namun Pemprov Riau telah berniat baik untuk meningkatkan mutu pendidikan di Riau.

Nah, salah satu terobosan yang mereka lakukan saat ini adalah menggesa Gerakan Riau Membaca. Memang, gerakan ini belum diluncurkan secara resmi oleh Pemprov Riau. Menurut rencana, launching gerakan ini akan dilakukan sempena HUT ke-49 Provinsi Riau. Dari gerakan ini, pemerintah mengharapkan agar masyarakat mulai sadar kembali untuk mau membaca. Disadari, membaca adalah cara utama untuk menjadi pintar. Buku adalah gudang ilmu.

Menurut Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Gerakan Riau Membaca ini sengaja mereka gesa. Ini merupakan salah satu kampanye pembangunan pendidikan di Riau. Gubri menyadari betul bahwa membaca membuat orang bisa menguasai informasi dan mengetahui ilmu pengetahuan. Gerakan Riau Membaca, kata Gubri, akan dicanangkan kepada seluruh komponen masyarakat hingga ke desa-desa, dari usia dini sampai yang tua-tua.’’Kita tidak bisa menawar-nawar lagi. Gerakan Riau Membaca mesti menjadi gerakan menyeluruh. Saya mengimbau kepada seluruh pihak untuk memberikan partisipasi aktifnya, baik itu di lingkup keluarga, tempat kerja, maupun tempat lainnya.

Didahului Gerakan Hibah Sejuta Buku Untuk mendukung Gerakan Riau Membaca ini, Riau Pos Group bekerja sama dengan Pemprov Riau, Tim Penggerak PKK Riau, Yayasan Bandar Serai, Badan Pustaka dan Arsip, telah me-launching program hibah sejuta buku. Gerakan ini, dicanangkan pada Senin (31/7) lalu. Tujuan gerakan ini adalah mengumpulkan bahan bacaan, baik berupa buku, majalah, komik, atau lainnya. Nantinya, sumbangan dari pembaca ini akan disalurkan ke perpustakaan yang ada di Riau, terutama perpustakaan yang selama ini memang tidak mendapatkan pasokan buku atau bahan bacaan lainnya.

Sampai kemarin, sumbangan buku semakin jauh mengalir. Kotak yang disediakan penaja gerakan, disebar di kantor Riau Pos dan beberapa mal yang berada di Pekanbaru.’’Kami berharap masyarakat luas dapat menyumbangkan buku-buku ke kotak-kota yang kita sediakan,’’ kata Sutrianto, Wakil Penanggungjawab Riau Pos.

Taman Bacaan KampungDi tengah semarak keinginan masyarakat untuk kembali ke buku, beberapa perusahaan dan institusi tidak sungkan-sungkan untuk menyisihkan kelebihan dananya. Salah satunya dilakukan Yayasan Pengembangan Masyarakat Riau atau Care and Empowerment for Communications (Cecom) yang bekerja sama dengan Melayu Baru Indonesia (Mabin) dan Yayasan Bandar Serai.

Mereka menggerakkan Taman Bacaan Kampung. Tujuannya adalah membuat sebuah perpustakaan rakyat yang menyediakan buku-buku bacaan segar. Buku itu merupakan sumbangan dari perusahaan, institusi, atau perorangan. Tidak hanya menyediakan tempat yang sesuai dengan atmosphere kampung, pihak pengelola juga menyediakan tenaga pengawas, pendidik, dan sekaligus penyelia.

Saat ini, Taman Bacaan Kampung sudah menyebar luar di seluruh antero Riau. Setidaknya sudah lebih 100 Taman Bacaan Kampung yang berdiri. Beberapa perusahaan besar seperti PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), PT RAPP, dan lainnya, sudah menyerahkan sebagian dananya untuk keperluan ini.’’Tujuan kita memang tidak muluk-muluk. Namun keunggulan program ini adalah menghadirkan sebuah taman bacaan yang sesuai dengan suasana kampung. Biar mereka tidak merasa asing dengan pustaka,’’ kata Ir Kholis Romli, Direktur Pelaksana Cecom.***

Sumber : Riau Pos, 6 Agustus 2006

Taman Bacaan dan Bermain Anak Sebagai Trauma Center

KEHADIRAN sebuah taman bacaan dan bermain anak sangat diperlukan, apalagi di daerah bencana. Taman bacaan dan bermain dapat menjadi sebuah trauma center untuk mengembalikan kegembiraan anak-anak, selain menumbuhkan kreatifitas dan imajinasi mereka.

Hal tersebut dapat kita jumpai di Dusun Kembang, Desa Madurejo, Prambanan, Sleman. Di dusun ini, dengan menggunakan sebuah rumah milik salah seorang warga, pada tanggal 23 Juli 2006 didirikan sebuah taman bacaan dan bermain anak “River Castle”. Menurut Agung, salah seorang pionir River Castle yang ditemui Senin (11/9), pendirian taman bacaan dan bermain ini dilakukan atas inisiatif pemuda dusun Kembang sejak 6 tahun lalu. Namun baru menemui momentum yang tepat setelah terjadinya gempa 27 Mei yang lalu dimana banyak anak-anak di wilayah tersebut mengalami trauma akibat gempa.

Atas bantuan Komunitas Merapi, sebuah kelompok yang bergerak di bidang pengembangan budaya masyarakat Merapi, berdirilah taman bacaan dan bermain anak ini. Nama River Castle, yang berarti Kastil Sungai, sendiri sengaja digunakan mengingat taman bacaan ini terletak di bantaran Kali Opak.

Taman bacaan dan bermain anak River Castle memiliki beragam koleksi buku hasil sumbangan berbagai kalangan. Hal ini dapat terlaksana berkat keaktifan pemuda dusun untuk memasukan proposal bantuan kepada berbagai lembaga yang ada di Yogyakarta. Meskipun demikian mereka masih membutuhkan bantuan berupa penambahan koleksi buku, rak buku dan papan pengumuman yang akan digunakan untuk memajang koran.

Pada momen-momen tertentu di halaman taman bacaan ini diadakan kegiatan budaya yang melibatkan anak-anak seperti jathilan, tarian, lomba mewarnai,membuat puisi dan paduan suara anak-anak. Mereka terlihat begitu antusias dalam mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan. “Semoga saja kegiatan belajar dan bermain ini dapat terus bertahan” ujar Agung.

Dusun Kembang sendiri terdiri atas 2 Rukun Tetangga (RT) yang terdiri atas 45 kepala keluarga. Tidak ada korban jiwa pada saat gempa Mei yang lalu, hanya saja 10 rumah penduduk hancur diguncang gempa. Mayoritas mereka telah mendirikan rumah darurat, dengan menggunakan material seadanya, namun ada beberapa yang mengungsi ke rumah sanak keluarga mereka.(zal)

Sumber : Saksi Gempa Online, 11 September 2006

Planet Baca..Friday Extra

SESUAI janji gue mau cerita tentang Planet Baca….mungkin dah pada tahu yah Planet Baca itu Taman Bacaan yang kita bikin buat anak-anak Bandara..kenapa namanya Planet..ngga pondok atau kampung baca…..dari awal gue n Nursidi emang mau cari nama yang bikin orang penasaran and pengen dateng tuk cari tahu.

Nah…namanya planet khan besar dan ngga lazim buat orang daerah sana ..maka diharapkan pada mampir tuk liat ada apa aja disana siapa tahu peminatnya bisa besar.Planet Baca dimulai dengan ide tuk buat semacam tempat berkumpul buat anak-anak n remaja belajar n gratis..

setelah dipikir2 kita putusin bikin Taman Bacaan..permasalahan berlanjut..masalah tempat..untung Nursidi nawarin halaman rumahnya tuk dipake jadi ada sekitar 6x4 meter..gue salut sama Nursidi dalam hal ini..tanah depan rumahnya dah disumbangin sama dia tuk bikin lapangan bulu tangkis terus dia modalin temennya bikin warung minuman dan makanan ringan buat yang cape main bulutangkis..

Sekarang dia nyumbang tanah di halamannya tuk jadi Taman Bacaan…kita2 biasanya malas kalau rumah kita dipake buat tempat ngumpul anak2 takut berisik he..he..heTerus persoalan berikutnya duit tuk bikin bangunannya gimana? Gue nekat keliling and bikin e-mail ke beberapa VP dan GM dan Manager dan temen2 deket gue tuk nyampein ide ini plus minta sumbangan..

Gaung bersambut..beberapa teman kontan ngasih sumbangan..gue masih inget Mitha, Pa Wito, Johan, Pa Ben and Andre (bukan Juliandra Barus) dan Haji Andi yg ini kerabatnya Nursidi sebagai first donatur..malahan di TM..Ida and Pa Syachrip koordinir..di TR Mitha juga bantuin..jadi dapat lumayan dari mereka.

Dengan dana awal kita mulai gerak..waktu itu baru kekumpul lima jutaan..eh tiba2 Pa Hadi denger n bantu yang lumayan..ah tenang deh tuk bangunan bisa beres ..oh iya itu bangunan hasil desain kilat gue cuma 10 menit sisanya tukangnya Nursidi yang terjemahin. Thx ya buat semua yang udah nyumbang gue ngga bisa ngucapin satu persatu semoga Allah SWT membalas dengan berlipat pahala..amin.

Sekarang tinggal mikirin dari mana dapat bukunya.pusing2..Pa Adjie atas nama TSC ngasih 5 juta..plok rejeki nomplok..langsung gue belanja di Senin diantar Taufik TER..dia mantan preman Senen..makanya kurus..nah lho ngga nyambung khan…..dapat sekitar 500 buku..banyak buku pendidikan umum macam buku pintar, ensiklopedia anak kita beli dan juga bacaan kayak komik Asterix, Tintin, Lucky Luke…pokoknya buku masa lalu gue beli semua…ternyata kalau niat kita baik ada aja jalannya..bayangin itu semua kelar dalam tempo 1 ½ bulan tanpa proposal and Biz Plan ..Just Do It..seperti semboyan Nike.

Pembukaan kita undang Pa Adjie cs..lumayan rame yang datang dan sambutannya sangat baik..sekarang tugas Nursidi tuk nentuin siapa yang bakal jaga..kita bikin aturan ketat jadi ada yang tugas piket..dan semua harus tertib..sandal harus rapih dsb..pemegang kunci bu Nursidi dan Bos tetap Nursidi (ini Penghuni Terakhir apa Planet Baca he..he..he)…masalah yang muncul berikut..terlalu sering anak2 numpang ke kamar mandi rumahnya Nursidi..wah berarti kita butuh WC di luar..nah lagi2 ada yang nyumbang kalau ngga salah Arif Faisal..lagi2 lunas deui masalahna..kita bangun WC kecil disamping Taman Bacaan…

Sekarang tiap minggu penuh terus karena kita bikin kursus Bahasa Inggris yang ngajar jebolan Komara..pagi si Adul ngajar buat anak SD sekitar 40 orang..siangnya Malik ngajar yang SMP ke atas sekitar 40 orang juga..terus juga kita bikin Kejar Paket buat yg pengen dapat ijasah SMA n SMP..nah yang suka ngajar tuh Lia..engineer baru di TER..makasih ya Lia….n Firman juga

Kita pengen banget tuh di sekitar Bandara bisa berdiri Planet Baca2 yang lain..lagi2 rejeki datang GMF via TSC (thx to Pa Aviv n Adjie)..bantu full tuk Planet Baca yg kedua…kali ini di tempatnya Sapri yang beda Kampung dengan Nursidi..bapaknya nyumbang Tanah di halamannya tuk dibikin Taman Bacaan..alhamdulillah adalam tempo sebulan jadilah Taman Bacaan dengan bentuk serupa..nah disini yang full control Sapri and kakaknya yang ngatur jadual belajar dsb.

Bayangin kalau kita bisa bikin setiap tahun dua atau tiga kampung dibikinin Planet Baca lumayan khan bisa tambah pinter anak2 situ..karena ternyata minat baca mereka sangat tinggi terbukti dalam tempo satu bulan buku2 di semua tempat dah habis di baca dan langsung lecek..karena membludak pengunjungnya terutama sore hari dan hari libur.

Gue n Nursidi dibantu TSC pernah bikin kotak sumbangan buku ditaruh di depan GMF cuma gue sedih kebanyakan yg disumbang buku pelajaran bekas anaknya..padahal jelas2 yang kita minta tuh buku bacaan..malah ada yang naruh sisa kertas ulangan anaknya..ini sih buang sampah namanya…ternyata kebiasaan nyumbang sesuatu yang baik belum tertanam baik di insan GMF..mbok ya beli buku baru satu aja tiap orang terus taruh di kotak nah kalau 1000 orang aja kayak gitu dah dapat 1000 buku baru khan…

Gue baru aja dapat info kalau temen2 gue di Mesin ITB mau nyumbang uang angkatan kita yg cukup lumayan ke Planet Baca..nah lumayan ada buku baru buat anak2.Utang gue masih satu bikin Planet Baca di tempatnya Okil tahun ini..moga2 ada donatur yg mau partneran sama gue jadi bisa cepet jadi sebelum ganti tahun….Pokonya kita pertahankan konsep gratis dan universal di Planet Baca..yang masih pengen gue beli juga tuh peta dunia yang gede tuk dipasang di Planet Baca biar anak2 tuh pada tahu kalo dunia luas sekali dan banyak yang bisa merea kunjungin one day…

Cita2 kita di Planet Baca tuh juga pengen bikin SMP unggulan..yang lulusannya difokusin dapat beasiswa nerusin SMA di luar negeri,Australia, Singapura, Malaysia atau Jepang..ngga usah banyak2 muridnya maksimum 20 orang dari SD terbaik di daerah situ aja..gue dah benchmark ke Mas Lendo yang bikin Sekolah Alam dan School of Universe..nah yg belakangan tuh ada di Parung deket danau..lo-lo kudu liat deh…ngga akan pernah kepikiran nyekolahin anak di Luar Negeri kalau dah liat sekolah bikinan Mas Lendo..Tob Banget dah…yuk bikin yuk…

Cita-cita lain yang mau kita bikin juga buat ibu-ibu sekitar Bandara, gue pengen banget bikin penyewaan mesin cuci murah..biar ngurangin orang murtat (jemur pantat) yang nyuci di pinggir kali..jadi kita sediain mesin cuci badak kelas hotel atau penyewaan mesin cuci di luar negeri..yang kuat operate 12 jam sehari non stop..lalu kerja sama dg PLN and PDAM biar dapat diskon gitu..nah dengan duit 1000 perak mereka bisa nyuci sampai 5 kilo/keranjang..khan lumayang ngga cape tuh ibu2 jadi sampe rumah masih seger bisa ngelayanin anak n suami better..dah itu sambil nyuci kita sediain majalah and buku yang bagus jadi iseng nunggu cucian mereka baca khan jadi tambah pinter..gimana? setuju ngga? Kalo setuju..kita buat yuk siapa tahu dua tahun lagi dah banyak yang bisa nikmati hasilnya..oce

Sumber : Ananwa Wijaya Blog, 4 November 2005

Adik - Adik Kita di Pangandaran, Butuh Buku Bacaan !!!

CUACA itu cuaca di Pengungsian Wonoharjo Pangandaran cukup cerah. Lapangan sepak bola yang dikelilingi tenda - tenda pengungsi semakin ramai dengan celoteh anak - anak. Di antara tenda - tenda penduduk tersebut, berdiri pula beberapa tenda posko seperti tenda Satkorlak, P2B PKS, BSMI, Portalinfaq dll.

Di tenda Portalinfaq yang bersebelahan dengan tenda P2B PKS dan Satkorlak itulah selama ini anak - anak belajar dan bermain. Karena lokasinya berada di alam terbuka, akhirnya tenda itu diberi nama "Sekolah Alam". Mereka belajar di tenda tersebut sepulang dari sekolah umum hingga sore hari, dibimbing oleh kakak-kakak relawan. Selama ini mereka hanya belajar dengan perlengkapan seadanya, tidak ada buku bacaan, duduknya pun bukan di kursi, melainkan di atas terpal.

Berawal dari situ akhirnya kami berinisiatif untuk membuat sebuah "Taman Bacaan" untuk mereka. Alhamdulillah, beberapa hari sebelumnya ada seorang dermawan yang menyumbangkan beberapa kardus buku pelajaran untuk anak - anak SD, insyaAllah ini bisa menjadi 'modal awal'. Kami pun telah pergi ke pasar Banjarsari (1.5 jam perjalanan dengan bis dari Pangandaran) untuk membeli buku - buku tambahan, namun hanya sedikit yang kami dapati di sana.

Bismillahirrahmanirrahiim...Dengan memohon ridho dan rahmat dari Allah SWT, 20 Agustus 2006, di tengah teriknya panas matahari, juga disaksikan para warga di Pengungsian Wonoharjo, kami 'launching' sebuah Taman Bacaan untuk membantu proses belajar adik - adik kita di sana. Subhanallah, sambutan warga, khususnya anak - anak sungguh sangat luar biasa. Meski dengan buku bacaan seadanya, mereka sangat antusias dan langsung 'menyerbu' rak buku dari kayu, yang dibuat dengan bahan seadanya pula :)

Namun di tengah kegembiraan mereka, tiba - tiba kami mendapatkan sebuah SMS dari dermawan yang menyumbangkan buku pelajaran untuk anak - anak SD tersebut di atas. Beliau meminta agar buku - buku tersebut dikembalikan SEMUANYA !!! Duh Gusti, kami tidak ingin bersu'udzon kepada dermawan tersebut. Engkau Yang Maha Tahu niat yang tersembunyi di dalam hati mereka.

Oleh karenanya, dengan tulisan ini kami ingin mengetuk pintu hati para dermawan di manapun saat ini berada. Sekiranya ada yang ingin menyumbangkan buku - buku pelajaran sekolah, buku bacaan atau majalah yang mendidik, baik baru maupun bekas, janganlah sungkan - sungkan untuk menghubungi kami. Adik - adik kita di Pangandaran sana sangat membutuhkan buku - buku tersebut. Selain bantuan buku, kami juga memberikan bantuan beasiswa untuk 3 anak SLTA, seragam sekolah untuk 130 anak SD+SLTP dan sebagainya. Sooo...Bagi Bapak, Ibu dan rekan - rekan yang saat ini diberikan kelapangan rezeki, dan ingin berbagi dengan mereka, sekali lagi, jangan sungkan - sungkan untuk menghubungi kami.

Atas segala perhatian dan bantuan dari Bapak/Ibu kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih. Kepada seluruh donatur di manapun berada, khususnya yang telah memberikan bantuan untuk para korban gempa dan tsunami di Pangandaran dan sekitarnya, ada salam dan ucapan terima kasih dari warga Wonoharjo Pangandaran. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

Note : Bantuan Buku bisa dikirim langsung ke :
KOSIPT. Catur Khita PersadaSentra Mampang Building Blok CJl. Mampang Prapatan Raya No 28Jakarta Selatan 12790. Contact : Email : ukhti.kosi@gmail.com, YM : anak_ngw, HP : 08128510372

Sumber : Blog Mari Peduli, 24 Agustus 2006

Deni Rachman dan Wiku Baskoro Memberdayakan Gerakan Literasi

BERONTAK terhadap praktik kekerasan di orientasi pengenalan kampus (ospek) oleh mahasiswa yang notabene teman-temannya, Deni Rachman diasingkan. Mencari aktualisasi baru, alumnus Kimia Unpad ini menoleh pada cita-cita terpendamnya, bikin toko buku. Dengan modal nekat dan dana pinjaman, ia membeli beberapa eksemplar buku dari pasar buku Palasari dan berjualan ngampar di lapangan Gasibu dan kompleks Pusdai. Itu tahun 2001.

DI tempat ngampar ini, Deni bertemu seorang distributor dan kerja sama pun terjalin. Atas dasar kepercayaan dan sistem konsinyasi (titip jual), ia bisa memilih buku yang laris untuk dijual dengan jumlah yang banyak relatif tanpa keluar modal.

Ia pun mulai merambah event-event lebih besar di tempat-tempat seperti Sabuga dan Graha Manggala Siliwangi. Tetapi, perlakuan tidak enak bukannya tidak sempat mampir. Sampai saat ini, ijazah SMA-nya yang dijadikan jaminan belum dikembalikan oleh sebuah penerbit besar. Padahal, urusan bisnis di antara mereka sudah beres.

Waktu berlalu. Tahun 2003, Deni tetap belum punya toko buku. Justru kos-nya makin penuh terisi dus buku. Berkat jam terbang, Deni mengetahui seluk-beluk bisnis perbukuan. Ia banting setir menjadi distributor dan mendirikan Lawangbuku. Apalagi toko-toko buku seperti yang pernah diidamkannya, mulai ramai bermunculan di Kota Bandung dan sekitarnya. "Waktu itu sebulan bisa muncul satu," katanya mengenang. Kini, tak sedikit dari toko-toko buku itu malah tumbang.

Wiku Baskoro, adalah salah satu mantan pengelola toko buku yang tumbang. Bukan hanya satu, tetapi dua toko, yakni toko buku Hitam Putih (2003) dan Warung Lesehan (2004). Hingga saat akhir, tinggal Wiku sendirian. Teman-temannya sudah lama pergi. Ia sendiri mulai terjun ke bisnis buku setelah sukses menggelar pameran buku di kampusnya, Universitas Widyatama. Toh, buku sempat mempertemukan Wiku dan Deni. Mereka mendirikan Dipan Senja pada 2004.

"Itu eforia," kata Deni, ketika melihat basis pendirian toko buku yang labil. Pasca orde baru (Orba), menurut dia, keran informasi terbuka luas namun berbarengan dengan krisis ekonomi. Periode 1999-2001 penerbit-penerbit buku dari Yogyakarta meluncurkan buku-buku yang pada masa Orba sulit diperoleh. Mahasiswa melihat peluang bisnis dan kebebasan mengakses buku lebih banyak. "Ada buku, ada modal, ada tempat, jadilah toko buku. Tapi komitmen nggak kuat," kata Deni.

Namun benarkah, ada penjual buku karena semangat kumpul-kumpul dan prestise agar kelihatan intelek? "Wajar saja. Nggak munafik, saya memulainya juga karena pengin ada image itu. Tapi itu saja nggak cukup. Harus ada kemampuan manajerial. Fungsi manajemen mesti berjalan bagus.

Deni sempat menerbitkan buku secara independen ("Sosialisme di Kuba: Idealisme Setengah Hati", Kang Bondet/Sigit Susanto, 2004) yang mencuatkan namanya. Dipan Senja kemudian memfokuskan diri pada membangun jaringan komunikasi antarpegiat buku, terutama sisi manajemen. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, kurangnya kemampuan manajemen inilah yang membuat kondisi usaha perbukuan tidak sehat. Dipan Senja menjadi agen literasi. Workshop Buku 5 in One yang merupakan rangkaian kegiatan transformasi ilmu manajemen praktis untuk perbukuan digelar.

Dalam bisnis buku, Deni dan Wiku mengalami perubahan paradigma. Sebelumnya mereka menjual/menyalurkan buku menurut selera mereka. Kemudian karakter konsumen/retail mereka perhatikan. Konsumen di Gasibu tentu beda dengan di Sabuga. Image toko-toko buku tentu masing-masing tidak sama.

Penerbit pun mereka perhatikan. Sebagai distributor, Lawangbuku memilih penerbit yang peduli pada literasi, minimal mendukung program bedah buku mereka. Sikap manusiawi juga jadi pertimbangan. Pedagang punya kemampuan dan selayaknya diberi keleluasaan menyusun program-program. Bukannya digenjot terus untuk mengejar materi. Soal retail, Lawangbuku mempertimbangkan profil pengelola dan kelayakan tempat.

"Bisnis distribusi Lawangbuku tetap jalan. Secara finansial kita harus kuat. Tanggungjawab kita sebagai pelaku perbukuan itu di Dipan Senja. Jadi, nggak timpanglah. Kita nggak sekadar jadi manusia bisnis, tapi juga manusia yang sosial, bantu teman-teman. Minimal apa yang dipermasalahkan di Lawangbuku, itu bisa teratasi dengan kita ngumpul bareng. Saling menguntungkanlah", kata Deni.

Transformasi toko buku menjadi toko buku berbasis komunitas atau toko buku plus taman bacaan dan perpustakaan, dilihat Wiku sebagai sebuah langkah manajemen.
"Saya ngelihat-nya sebagai perkembangan. Dulu muncul toko buku, lalu muncul toko buku komunitas, refresh lagi, muncul lagi toko buku dan taman bacan. Dari sisi bisnis, itu seperti tadi, salah satu bagian dari manajerial untuk menambah pemasukan", kata Wiku.

Apakah menolong atau tidak, menurut Deni, itu yang mau dilihat dari workshop. Yang jelas, untuk toko buku plus taman bacaan sudah muncul ekses. "Ada beberapa penerbit yang nggak mau menyuplai toko buku yang ada taman bacaannya. Soalnya, katanya sih orang jadi lebih suka minjem daripada beli," kata Deni.

Wiku menyatakan heran. mengapa bisnis buku belum pernah dibahas secara detil seperti comsumer goods. Padahal, dari sisi crowded-nya pasar itu menarik. Konsumen tidak banyak, daya beli terbatas, belum lagi buku masuk skala prioritas entah ke berapa. Justru, hal inilah yang menumbuhkan kreativitas toko buku alternatif dengan membuat taman bacaan, misalnya.
Pelabelan alternatif, menurut Deni, juga mengundang ekses tersendiri. Entah siapa yang pertama kali menyebutkan. Istilah ini dialamatkan pada toko-toko buku yang menjual buku-buku bekas, buku-buku yang berasal dari penerbit relatif tidak besar. Karena alternatif, image yang dilayangkan kepada toko-toko buku ini adalah tidak profesional. Belum lagi pembedaan perlakuan yang dialami antara toko buku seperti ini dengan toko buku besar saat pameran, misalnya. "Kan sama-sama tamu, sama-sama toko buku , masa tidak diperlakukan setara," kata Deni.

Pemberdayaan manajemen juga dan jaringan komunikasi perlu dilakukan untuk menutup celah kejahatan yang dapat terjadi dalam bisnis ini. Setidaknya menjadi penangkal dini. Model kejahatan "mafia" apa yang biasa terjadi? "Satu, pembajakan. Dua, penipuan", kata Deni. "Teman saya ditipu orang dari Jakarta yang mengaku sebagai distributor. Dia ambil buku sekian juta tanpa dp (down payment-red) sedikitpun.

Setelah dilacak ternyata nama orang dan distributor itu nggak ada. Saya pikir buku yang diambil diobral supaya laku aja dan itu merusak. Ada sistem, penerbit ke distributor berapa persen, distributor ke toko buku berapa persen, toko buku ke konsumen berapa. Cuma dengan penipuan seperti itu dia bisa langsung jual ke konsumen dengan harga penerbit ke distributor".

Wiku menambahkan, kasus praktik kejahatan yang tengah menimpa sejumlah taman bacaan. "Di taman bacaan itu ada mafianya. Pinjam dan nggak ngembaliin lagi. Teman saya kehilangan buku-buku yang mahal seperti 'Musashi' dan 'Eragon'. Beberapa tempat juga kehilangan banyak buku. Teman saya pengin bikin jaringan antartaman bacaan supaya kalau ada yang seperti itu, keanggotaannya di-black list dan nggak bisa masuk ke taman bacaan yang lain", katanya.

Soal mafia perbukuan, Deni juga berusaha melihat ke dalam. "Saya juga sering bertanya. Ketika misalnya saya atau teman-teman yang lain telat bayar, jangan-jangan kita juga mafia. Karena itu menyusahkan dan melambatkan perputaran. Introspeksi juga. Jangan-jangan kita juga mafia buat orang lain, nih. Orang bisa bangkrut gara-gara kita nggak bayar."

Pilihan Dipan Senja untuk menjadi agen literasi, ternyata memang bukan tanpa alasan. Semua lini kegiatan perbukuan seharusnya solid. Satu macet, macet semua. Maka, workshop yang diselenggarakan Dipan Senja, meliputi pengelolaan toko buku alternatif, distributor buku, penerbit, perpustakaan/taman bacaan, dan penulisan. Workshop diadakan secara paralel selama satu tahun hingga tahun 2007, bekerja sama dengan Bale Pustaka (Jln. Jawa No. 6, Kota Bandung). Informasi seputar workshop dapat diakses melalui milis workshopbuku@yahoogroups.com.***

Sumber : Pikiran Rakyat.

Baznas Gagas Taman Bacaan Az Zahra

DEMI membantu meningkatkan kesadaran membaca di kalangan anak-anak, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerjasama dengan Yayasan Bunda Yessy, beberapa waktu lalu mendirikan taman bacaan anak Fatimah Az Zahra. Taman bacaan tersebut didirikan di pondok pesantren Ibadatullah, Kampung Benda Jatirasa, Jatiasih, Bekasi, yang selama ini pengelolaanya berada di bawah naungan Baznas.

Berdirinya taman bacaan ini, kata Emmy Hamidiyah, Direktur Eksekutif Baznas, berawal dari ketertarikan makin berkembangnya taman bacaan yang selama ini dikelola oleh Yessy Gusman. Meski selama ini berjalan sendiri ternyata Yessy telag mampu mendirikan 43 taman bacaan anak yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberadaan taman bacaan ini, telah memberikan akses bagi anak-anak tak mampu kepada dunia pengatahuan.

Baznas pun lantas menggalang komunikasi dan kerjasama dengan yayasan pimpinan Yessy Gusman tersebut. Apalagi, kata Emmy, sebenaranya Baznas juga telah memiliki program wakaf buku namun selama ini belum berjalan. Dengan berdirinya taman bacaan ini, maka salah satu 'impian' Baznas pun tercapai.

Seperti program lainnya yang diperuntukkan bagi kalangan tak mampu, taman bacaan ini juga ditujukkan bagi kalangan anak-anak sekitar taman bacaan yang tergolong anak-anak tak mampu. Emmy menyatakan, sejak berdiri pada 9 Oktober 2004 lalu, taman bacaan tersebut telah dapat dinikmati oleh anak-anak di sekitar taman bacaan itu.

Mereka bebas memilih 400 eksemplar buku yang ada di sana dari buku cerita, pengetahuan umum hingga buku agama. Bahkan kalangan orang dewasa pun bisa menikmati taman bacaan tersebut karena terdapat sejumlah buku tafsir dan agama yang dapat mereka baca.

Dan ternyata taman bacaan yang dibuka dari pukul 09.00 - 17.00 WIB ini, tak sekedar menjadi tempat untuk membaca karena anak-anak itu juga mendapatkan pengajaran untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. Petugas taman bacaan yang telah terlatih mengajari anak-anak membuat puisi, menyanyi, maupun menari. Bahkan setiap Ahad mereka mendapatkan undangan dari yayasan untuk menampilkan kebolehannya. Ini memberikan nilai tambah bagi anak-anak.

''Kami berharap hingga tahun mendatang telah memiliki 50 buah taman bacaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami mencontoh keberhasilan Yessy Gusman meski selama ini terlihat bergerak sendirian namun nyatanya telah mampu mendirikan 43 taman bacaan,'' kata Emmy kepada Republika di Jakarta, Senin (18/10).

Ia menambahkan untuk menyediakan buku-buku bacaan di taman bacaan Baznas telah berinisitif untuk menjalin kerjasama dengan sejumlah penerbit buku. Baznas telah mengirimkan surat kerjasama tersebut. ''Kami masih menunggu tanggapan mereka.''

Kerjasamanya dengan Yayasan Bunda Yessy juga memberikan manfaat karena yayasan tersebut telah terlebih dahulu melakukan kerjasama dengan sejumlah penerbit, dan buku yang mereka dapatkan bisa saja dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Baznas tentunya tak hanya mengandalkan sumbangan buku dari para penerbit tetapi juga berharap agar para muzakki rela menyumbangkan buku-bukunya baik yang baru maupun lama melalui program wakaf buku. Dengan demikian, pasokan buku bagi taman bacaan tak mengalami kendala. ''Kondisi seperti ini akan membuat anak-anak yang tak mampu lebih mudah mengakses bahan-bahan bacaan dan meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka,'' tambahnya.

Emmy berharap pendirian taman bacaan ini akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Dan ia pun berharap antusiasme anak-anak tak hanya pada saat taman bacaan itu dibuka.

Mudah Berzakat dengan M-Zakat
Berzakat kini makin mudah, dengan diluncurkannya fasilitas M-Zakat (Mobile Zakat). Pembayaran melalui fasilitas M-Zakat ini sangat mudah digunakan karena pembayar zakat tinggal mengirimkan saja short message service. Fasilitas ini disediakan bagi pembayar zakat yang bersifat lintas amil zakat, lintas operator, dan lintas mustahik (penerima zakat).
Melalui M-Zakat, para pembayar zakat yang menggunakan kartu pra bayar Simpati dan Kartu As dari Telkomsel, IM3, serta Mentari dari Indosat, dapat membayarkan zakatnya cukup melalui SMS ke nomor 92528.

Nomor 92528, dapat digunakan untuk membayarkan zakat kepada amil zakat manapun yang telah bergabung. Amil yang telah tergabung dalam M-Zakat adalah Dompet Peduli Umat (DPU) Daarut Tauhid, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Dompet Dhuafa (DD) Republika, Baitul Maal Muamalat, Lazis Dewan Dawah, serta Rumah Zakat Indonesia (DSUQ).

Para pembayar zakat, tinggal mengetikkan zakat lalu amil zakat yang dikehendaki dan mustahik-nya. Dalam hal ini, mustahik diketikkan dengan kata 'fakir'. Dan setiap kata tersebut dipisahkan dengan sebuah spasi. Setelah pesan terkirim maka para pembayar zakat akan menerima pesan jawaban.

Bahwa mereka telah membayarkan zakat sebesar angka yang telah ditentukan, untuk sementara ini hanya Rp 12.500, kepada amil zakat yang telah mereka pilih. Setiap operator akan memotong langsung dari voucher milik para pembayar zakat. Yaitu jumlah zakat Rp 12.500 dan biaya layanan SMS berkisar Rp 1500 hingga Rp 2500.

Sumber : Republika, Jumat, 22 Oktober 2004

Taman Bacaan Masyarakat SAHARA

BERKESEMPATAN pulang ke Pekalongan selama 3 hari akhir pekan lalu ada satu tempat yang masuk daftar tempat wajib dikunjungi, a must visited site, dalam list agenda kegiatan saya. Saya sendiri juga heran, orang rencananya liburan buat rehat begini masih sempet-sempetnya bikin daftar agenda kegiatan. Tapi tempat ini memang spesial, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) SAHARA namanya.


Resmi berdiri tanggal 8 November akhir tahun lalu, hanya menggunakan dinding kayu dan bambu yang mengambil tempat di halaman sebuah rumah. Merupakan satu-satunya taman bacaan yang ada di Pekajangan, kampung kelahiran saya. Dengan niatan awal sekedar menghadirkan tempat buat berkumpul dan membaca. Mengumpulkan majalah dan buku bekas dari masyarakat sekitar untuk bisa dijadikan bahan bacaan bagi pemuda dan anak-anak di sekitaran. Sederhana sekali bukan?

Dulu waktu pertama berdiri, dindingnya belum penuh, kalau hujan jadi seru. Koleksinya juga cuma ada koleksi majalah-majalah lama semacam Panji Masyarakat, Intisari, Bobo (edisi lama buanget), Suara Muhammadiyah dan beberapa buku lawas sumbangan kawan-kawan yang lain. Paling laris adalah buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Mas Faudzil Adhim sumbangan seorang kawan. Saya jadi terkekeh kalau diceritain ama si Hafiizh, yang ngelola. He...he...he...

Sekarang, alhamdulillah, dinding sudah lengkap mengelilingi, tak perlu khawatir lagi kalau hujan. Nampaknya koleksinya jauh lebih layak untuk dibaca, lebih manusiawilah. Beberapa bantuan telah singgah. Ada infaq dari Kelurahan, sumbangan buku dari Yayasan Bunda Yessy, sumbangan dari penerbit Qisthi ditambah sumbangan majalah dari beberapa kawan dan masyarakat sekitar. Jadi tidak lagi melulu majalah Panjimas yang sudah kusam itu. He..he..he...



Adalah M. Hafiizh, temen sekampung, sahabat akrab sedari SMP meski beda angkatan (setahun lebih tua), sama-sama pernah berkecimpung di organisasi yang sama yang memelopori berdirinya tempat ini. Saya masih ingat ketika wkatu itu dia SMS minta pendapat. Sayapun masih ingat beberapa pekan kemudian dia SMS lagi dengan penuh kekesalan karena minimnya respon dari masyarakat yang dia harapkan bisa membantu. Saya bilang, sudah terusin saja, nanti kawan-kawan yang ngebantu.

Dan alhamdulillah, hari ini sedikit yang dia citakan bisa nampak. Sekedar memberi tempat bagi anak-anak untuk membaca, mencoba membuat positif kegiatan para pemudanya, memberikan pencerahan lewat membaca, meski menumbuhkan minat baca dikalangan pedesaaan bukanlah hal yang mudah. Alhamdulillah jumlah pengunjung makin hari makin banyak, tidak hanya dari Pekajangan, namun juga dari desa-desa sekitaran. Tiap sore buka dari ba'da ashar sampai jam 20 dan hampir pasti ada yang mampir, entah pinjam bawa balik atau sekedar lihat-lihat. Tidak lagi hanya berebut buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah. Buku yang rasanya juga berdampak positif bagi Hafiizh karena bulan depan dia akan menikah dengan muslimah pilihannya...he....he...

Bagi kawan lain yang hendak menyumbang buku atau apapun itu buat Taman Bacaan MAsyarakat SAHARA, bisa menghubungi: M.Hafiizh dengan alamat Pekajangan Gg. 11 No. 3 RT 7 RW 3 Kedungwuni Pekalongan 51172

Sumber : Batikkejora.com, 25 Juli 2005

Menyemai Kasih Lewat Taman Bacaan Anak

MEMBACA adalah jendela dunia, buku adalah kunci peradaban, dan pengetahuan yang tanpa batas akan melewati hambatan perbedaan sosiaf, struktur agama, ekonomi, dan negara. Banyak cara dilakukan orang untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama.

Entah itu sumbangan berbentuk uang, makanan ataupun pakaian, Namun Yasmine Yuliantina Yessy Gasman mempunyai cara tersendiri membagi kasih dengan kaurn dhuafa. Taman Bacaan Anak (TBA) menjadi pilihannya untuk membantu generasi muda mewujudkan impian mereka.

Taman Bacaan Anak didirikan oleh Yessy pertama kali tanggal 4 Desember 1999, dengan nama Taman Bacaan "Namira" di Gang Porti, kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan. Latar belakang didirikannya TBA, menurut Yessy, adalah memberikan sumber bacaan bermutu secara gratis untuk anak-anak dari keluarga ekonomi lemah.

Diharapkan taman bacaan tersebut dapat membantu mereka dalam rangka menambah ilmu pengetahuan, pengembangan daya imajinasi dan kreativitas, pencerahan diri, serta pembentukan karakter dengan moralitas yang terpuji sejak dini.Berbeda dengan taman bacaan lain, TBA yang berada di bawah Yayasan Bunda Yessy ini dibangun di perkampungan padat penduduk dimana kurang cahaya matahari dan sirkulasi udara, di gang sempit, kadang dilanda banjir, dekat kandang ayam, dan di lingkungan yang tidak ada lagi tempat bermain anak.

"Ibaratnya seperti madu di dalam goa yang gelap. Untuk merangkul mereka kita buat berbagai acara dan pertandingan," ujar ibu dari Javan dan Cherro yang memiliki suara lembut ini.Pada awal berdirinya, taman bacaan tidak saja disambut gembira oleh anak-anak tetapi juga para ibu.

Dalam perjalanan selanjutnya tarnan bacaan tidak hanya menjadi sarana mcmbaca, tetapi juga memotivasi anak dan lingkungan sekitar TBA untuk dapat mengembangkan bakat dan minat, serta kemampuan diri mereka.

Menurut Yessy, sebagai langkah awal untuk menumbuhkan minat baca sebaiknya dimulai dengan menciptakan kebiasaan membaca dan mendirikan sudut-sudut baca di dalam rumah kita sendiri. Sehingga setiap anggota keluarga mudah mengaksesnya, dan membaca buku menjadi suatu kebutuhan.

Sampai saat ini TBA yang didirikan Yessy tersebar di 36 lokasi, baik Jakarta, Tangerang, Depok dan Bogor. Di samping mengelola sendiri beberapa TBA, Yayasan Bunda Yessy juga menjalin kerjasama dengan Taman Bacaan di luar Jakarta seperti di Banten, Garut, Bandung, Sukoharjo, Pemalang, Semarang, Pekalonan, Wonosobo, Sukabumi, Pulau Seribu, Brebes, Surakarta, Lamongan, Flores, Lampung: Makassar, NTT, Medan, Buleleng, Merauke, Balikpapan, Pontianak, dan Sarnarinda.

Ketika merintis TBA, Yessy tidak segan-segan turun ke lokasi yang sulit dijangkau. Bahkan naik turun gunung, dan tidak ada alat komunikasi. Semua itu bagi Yessy adalah perjuangan untuk mendapatkan hasil yang menggembirakan di kemudian hari. Terbukti kini TBA yang didirikan Yessi telah mendapatkan banyak bantuan, baik dari rekan-rekan sesama artis, beberapa penerbit buku dan pihak bank. Padahal awalnya TBA hanya bermodalkan buku-buku bekas milik kedua anak Yessy.

Berkat kiprahnya mendirikan TBA, pada tahun 2003, Yessy memperoleh penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional sebagai pendidik masyarakat kategori guru nonformal. Dia juga mendapatkan penghargaan dari Penerbit Mizan atas jasanya meluaskan budaya baca bagi masyarakat kecil.Senang Membaca Sejak KecilMelihat kondisi negara yang tengah dilanda krisis moneter, di mana harga semua bahan pokok melonjak, dan penerbit mulai banyak yang gulung tikar, hati Yessy tergugah untuk memberikan sesuatu yang berarti.

Tak terbayangkan apa jadinya suatu bangsa jika anak-anak yang akan menjadi generasi penerus tidak mendapatkan kesempatan mengenal pengetahuan alam, dan berbagai ilmu karena mahalnya harga buku. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa hidup dengan buku, apalagi ketika ia bersekolah di Amerika Serikat. Kebiasaan tersebut semakin berkualitas setelah Yessy yang di dalam tubuhnya mengalir darah carnpuran Cina, Jerman, Jakarta, Jawa dan Madura ini dimanja dengan segala kelengkapan fasilitas perpustakaan umum dan kampus yang rnendukung.

Yessy pun betah berjam-jam berada di sana."Sebetulnya membaca tidaklah memerlukan waktu atau tempat khusus. Kita dapat melakukannya di mana dan kapan saja, bahkan pada saat-saat luang. Serta menjadikannya sebagai kebiasaan atau gaya hidup keluarga kita, Alangkah mudah pelaksanaannya bila sarana atau sumbor bacaan dapat tersedia di segala sudut lingkungan sehari-hari kita baik di rumah kendaraan maupun ruang kerja," ujar Yessy yang mendapatkan gelar Bachelor of Art di bidang Management dari Universitas San Franscisco.

Bagi Yessy, pendidikan dan pengetahuan adalah suatu kebutuhan manusia yang sama pentingnya dengan sandang, pangan, dan papan. Manusia yang hidup tetapi tanpa diisi dengan pendidikan dan pengetahuan yang cukup akan menjadi korban kebodohannya. Jika pendidikan diperoleh di bangku sekolah maka pengetahuan di dapat dengan membaca.

Di TBA selain kegiatan membaca, ada juga kegiatan lain seperti pesantren kilat, pelatihan melukis, pelatihan musik, dan pelatihan membuat karya sastra. Acara-acara yang telah dilaksanakan oleh anak-anak anggota taman bacaan mendorong pengelola TBA untuk membentuk sanggar.

Dari sanggar ini kemudian lahir berbagai kegiatan seperti pementasan drama tari dan nyanyi, serta pembacaan puisi,"Hidup ini suatu perjalanan yang sangat indah jika dihayati dengan ikhlas sebagai prajurit Allah yang kembali kepada Sumber Cahaya." Inilah moto hidup Yessy yang akan menyertainya untuk terus rnengembangkan Taman Bacaan Anak.

Sumber : Amanah Online.

Taman Baca Untuk Masjid

ADA satu hal yang ingin saya ceritakan di liburan Agustus ini. Setiba di kampung halaman, saya beberapa kali megikuti sholat Jamaah di Masjid dekat rumah saya. Masjid Sabilul Muttaqin, adalah masjid yang cukup baru. Dibangun saat saya sudah kuliah, jadi sampai sekarang mungkin masih berusia lima tahunan. Namun heroik untuk memakmurkan masjid kelihatannya tidak seperti saat mula masjid ini dibangun.

Ngomong-ngomong tentang masjid itu, sebenarnya tak bisa dilepaskan dengan proses pengembangan Islam di kampung halaman saya. Dulu di kampung ini memang tidak terlalu tersentuh Islam, tidak ada madrasah di lokasi itu, sehingga anak-anak kecil harus bersepeda ke tempat lain untuk bisa menikmati belajar di madrasah, tapi lebih banyak yang tidak belajar di Madrasah karena tempatnya yang jauh.

Hingga akhirnya atas kebaikan seorang guru SMA, akhirnya sebuah rumah yang belum jadi, lantai duanya dijadikan sebagai musholla, lengkap dengan speakernya untuk mengumandangkan sholat lima waktu. Di sana ada madrasah untuk belajar sholat, membaca quran, dan fiqh sederhana lainnya. Berangkat dari sana, akhirnya muncul jamaah yasinan juga.

Perkembngan Islam di kampung saya itu, tak lepas dari peran seorang jebolan pesantren, yang saat ini telah diangkat sebagai pesuruh SD. Orangnya memang aktif, kreatif, dan bisa menerima masukan orang. Saat SMP, saya termasuk yang diajar beliau untuk membaca AlQuran, hafalan, dan materi fiqih lainnya. Setelah saya SMA, saya membantunya mengajar di madrasah itu, sampai akhirnya saya harus meninggalkan kampung halaman karena kuliah.

Sedih juga sebenarnya, karena sepeninggal saya belum ada yang membantu beliau, sehinga sampai saat ini beliau terkesan berjalan seorang diri, sejak mengajar di madrasah sampai menjadi imam sholat.

Kemarin sempat berbincang dengan seorang jamaah, dan kesimpulan kami mengatakan bahwa jika beliau tidak lagi di kampung ini, mungkin apa yang telah dirintisnya bertahun - tahun ini akan bubar.

Saya sendiri akhirnya sadar bahwa selama ini saya terlalu asyik dengan diri saya sendiri, dan kurang sadar terhadap apa yang dulu pernah dirintis, sehingga meninggalkan orang seperti Pak Sumar itu seorang diri. Memang kalau direnungkan mungkin memang ada beberapa kelemahan yang mesti diperbaiki dalam pengembangan dakwah disana, karena realitasnya,

1. Tidak pernah ada perencanaan, semuanya berjalan begitu saja.
2. Tidak ada kaderisasi, sehingga sampai saat ini dakwah hanya bertumpu pada satu orang saja.
3. Masjid hanya digunakan sebagai sarana ibadah mahdhoh, seperti sholat dan tarawih saja. Tidak pernah ada pengajian yang bisa selalu menjaga heroisme mereka untuk memakmurkan masjid, dan menambah ilmu.
4. Dalam forum Yasinan juga hanya melakukan ritual membaca surat Yasin dan tahlil saja, tidak ada materi pengajian yang bisa menambah wawasan mereka terhadap Islam.
5. Tidak ada bacaan - bacaan yang bisa memberikan pencerahan, baik kepada jamaah masjid dan da’inya.

Kelima point diatas bukan berarti saya tidak menghargai kerja keras orang di kampung saya, amat saya hargai, point - point itu hanyalah sebuah renungan yang harus difikirkan agar roda dakwah bisa terus berjalan.

Langkah pertama, terbersit keinginan dalam diri saya untuk membuat taman bacaan di masjid kampung saya itu. Karena yang paling penting adalah bagaimana melakukan upgrade informasi dan ilmu terhadap da’i dan para jamaahnya, sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat sholat saja, tapi bisa menjadi tempat belajar.

Untuk saat ini media perpustakaan saya fikir adalah yang paling tepat. Memang ini masih masih dalam pemikiran saja, yang mungkin akan saya bicarakan dengan lebih serius pada Idul Fitri mendatang, saat saya kembali pulang kampung lagi.

Saat ini saya ingin mendapat informasi dari anda semua, bagaimana membuat taman baca ?, dan selain harus membeli sendiri, dimana kira-kira saya bisa mendapatkan donasi buku untuk perpustakaan tersebut ? Anda tahu ?

Sumber : Achedy's Blog, 22 Agustus 2006

Peningkatan Kecerdasan Melalui Taman Bacaan Masyarakat

DALAM upaya meningkatkan kecerdasan bangsa, perlu dihidupkan kembali program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) melalui pelatihan-pelatihan dan pengelolaan TBM secara maksimal.

Penanggung jawab pelatihan TBM, Rasfi Mangkulla saat ditemui di Balai Pelatihan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), Jumat (3/2) mengatakan, tujuan dari TBM ini adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat untuk membaca dan belajar, sehingga tercipta masyarakat yang cerdas. Hal ini dikarenakan, perpustakaan di daerah-daerah kondisinya sangat memprihatinkan oleh karena minat baca masyarakat yang menurun.

“Pengelolaan bahan pustaka ini tidak lain adalah untuk memudahkan pengguna buku dalam mendapatkan informasi yang dikehendaki serta untuk menunjang kelancaran dan ketertiban layananTBM,” ujarnya.

Ditambahkannya, faktor lain perlunya TBM adalah tingginya tingkat buta aksara di Jawa timur. Dimana Jatim merupakan daerah dengan angka buta aksara tertinggi se Indonesia.
Berkaitan dengan metode pelatihan, Rasfi mengatakan, sebelum mengadakan pelatihan, pihaknya lebih dulu memberikan informasi agar tiap kabupaten tersebut mengirim proposal pada pihak P dan K Jatim untuk dibawa ke Direktorat Dikmas Depdiknas Jakarta . Hal ini bertujuan agar mereka mendapat dana block grand atau dana pengembangan TBM yang telah terbagi dalam beberapa klasifikasi yakni klasifikasi A, B, C dan D.

Direktorat Pendidikan Masyarakat Depdiknas RI, Dra Katarina mengatakan, TBM memiliki tiga fungsi penting yakni; Pertama, sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat agar belajar mandiri dan sebagai penunjang kurikulum program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) khususnya bidang keaksaraan; Kedua, sebagai sumber informasi dari buku dan bahan bacaan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan masyarakat setempat; serta ketiga, sebagai sumber penelitian dengan menyediakan buku-buku dan bahan bacaan lainnya dalam studi kepustakaan.
Menurut Katarina, program TBM sangat penting dalam upaya menciptakaan masyarakat yang gemar membaca. Hal ini diperlukan, karena program tersebut saat ini masih belum sesuai dengan harapan. Faktor kendalanya adalah karena kemampuan, keterampilan, dan kinerja pengelola yang belum memadai untuk mengolah TBM.

Pelatihan yang dilaksanakan di Balai Pelatihan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) pada 1 – 3 Februari 2006 ini diikuti oleh 85 lembaga TBM dari empat Kabupaten/kota di Jawa Timur yaitu Jember, Gresik, Malang, Surabaya.(cr1,cr12)

Sumber : Dinas Infokom Pemda Jatim

”Taman Bacaan Kampung’’, Sebuah Harapan Pencerahan

TENTU kita semua masih ingat, 24 Juli 2006 lalu, gerakan Hibah Sejuta Buku yang dilakukan oleh Riau Pos Grup yang bekerja sama dengan Pemrov Riau dan Yayasan Bandar Serai.

Sebuah gerakan yang membuat bulu roma kita merinding. Bagaimana tidak, di tengah keterpurukan ekonomi masyarakat desa di Riau, dimana anak-anak kampung yang sangat memerlukan lentera pengetahuan lewat bacaan, hadir sebuah gerakan yang memberikan peluang kepada anak-anak di pelosok desa untuk membaca.

Belajar berbagai hal yang positif dari buku-buku yang teramat sulit mereka dapatkan. Adanya anggapan tentang masih rendahnya minat membaca masyarakat kita, perlu dikaji dengan cermat. Apakah minat baca yang kurang atau tidak adanya buku yang mesti dibaca sehingga pada akhirnya anak-anak kita enggan membaca.

Menjawab pernyataan ini, hadirlah sebuah wadah taman bacaan yang masuk ke ceruk-ceruk desa yang ada di Riau yang bernama Taman Bacaan Kampung (TBK). Ternyata dari survey yang dilakukan TBK, betapa besar minat anak-anak kita membaca buku, namun apa daya, buku yang akan mereka baca tak ada. Hal ini terbukti dari distribusi ratusan bahkan jutaan buku ke kampung-kampung disambut antusias oleh generasi penerus bangsa ini.

Mereka seperti musyafir yang kehausan, ketika bertemu dengan buku-buku itu. Lalu melahap buku-buku yang ada, dengan riang gembira. Tentu kita semua berharap berbagai pihak terketuk hatinya untuk menyumbang buku-buku bacaan yang bermanfaat, untuk anak-anak negeri di pelosok desa. Agar minat membaca yang menggebu di hati mereka, tidak patah. Sudah sepatutnya kita terus memberikan subdisi buku agar kelak mereka tumbuh jadi manusia-manusia yang berilmu. Bak kata orang bijak, ‘’Ilmu tak jauh dari buku-buku’’. Apalagi 9 agustus lalu Gubernur Riau telah mencanangkan Gerakan Riau Membaca.

Kondisi anak-anak kampung yang haus ilmu dan buku-buku ini telah dirangkum dalam sebuah tayangan audio visual. Menghadirkan visual-visual yang menyentuh, betapa mereka (anak-anak-Red) yang hidup di kampung-kampung membutuhkan uluran tangan kita untuk pencerahan kehidupan mereka, menuju masa depan yang lebih baik dari orang tua mereka. Film dokumenter ini ditayangkan petang ini pukul 16.30 wib di Riau Televisi.(rpg)

Sumber : Riau Pos, Minggu, 13 Agustus 2006